Cari Blog Ini

Memuat...

semangka kotak

/ Category:

Jepang seringkali mempunyai keterbatasan dalam hal tempat penyimpanan, terutama di daerah berpenduduk padat. Hal ini menjadi dilema bagi pemilik toko penjual makanan. Dan seperti swalayan pada umumnya, pemilik toko memiliki keterbatasan dalam meyimpan semangka. Semangka yang berbentuk bulat dan besar banyak memakan tempat penyimpanan. Hal inilah yang memunculkan ide bagi petani disana untuk membuat semangka berbentuk kotak. Dan walaupun sebelumnya sempat disangsikan keberhasilannya oleh banyak pihak. Faktanya, sekarang semangka kotak sudah tersedia.

Semangka berbentuk segi empat ini adalah hasil olahan petani di Prefektur Kagawa, sebelah barat daya Pulau Shikoku. Lalu, bagaimana cara membuatnya?? apa mereka memakai bibit tertentu??
Tidak, mereka membuatnya dengan memasukkan semangka kedalam sebuah kotak berbentuk kaca seperti ini.

Selain semangka berbentuk kotak, saat ini telah dikebangkan pula semangka dalam betuk beraneka ragam. Ada berbentuk prisma, waru, boneka, dan lain-lain.  Tetapi hal itu bisa terwujud asalkan kita memiliki kerangka atau cetakannya seperti gambar disamping beruka kaca.  Kalau hendak membuat semangka prima atau limas boleh saja, tinggal kita menyusun kerangka kacanya seperti bentuk yang kita inginkan.
Selamat mencoba.





Membuat pestisida alami

/ Category:


Penggunaan pestisida buatan yang memakai bahan kimia
memang berbahaya bagi manusia. Kita sering merasa
waswas bila anak kita akan bisa menjangkaunya. Nah,
semoga artikel tentang pembuatan pestisida alami ini
dapat membantu memecahkan persoalan Anda (petani)
dalam melindungi kebun (lahan pertanian) sekaligus
keluarga.

Mimba (Azadiracta indica)
Cara pembuatannya dapat dilakukan dengan mengambil 2
genggam bijinya, kemudian ditumbuk. Campur dengan 1
liter air, kemudian diaduk sampai rata. Biarkan
selama 12 jam, kemudian disaring. Bahan saringan
tersebut merupakan bahan aktif yang penggunaannya
harus ditambah dengan air sebagai pengencer.
Cara lainnya adalah dengan menggunakan daunnya
sebanyak 1 kg yang direbus dengan 5 liter air.
Rebusan ini diamkan selama 12 jam, kemudian saring.
Air saringannya merupakan bahan pestisida alami yang
dapat digunakan sebagai pengendali berbagai hama
tanaman.

Tembakau (Nicotium tabacum)
Tembakau diambil batang atau daunnya untuk digunakan
sebagai bahan pestisida alami. Caranya rendam batang
atau daun tembakau selama 3 - 4 hari, atau bisa juga
dengan direbus selama 15 menit. Kemudian biarkan
dingin lalu saring. Air hasil saringan ini bisa
digunakan untuk mengusir berbagai jenis hama tanaman.

Tuba, Jenu (Derriseleptica)
Bahan yang digunakan bisa dari akar dan kulit kayu.
Caranya dengan menumbuk bahan tersebut sampai
betul-betul hancur. Kemudian campur dengan air untuk
dibuat ekstrak. Campur setiap 6 (enam) sendok makan
ekstrak tersebut dengan 3 liter air. Campuran ini
bisa digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama
tanaman.

Temu-temuan (Temu Hitam, Kencur, Kunyit)
Bahan diambil dari rimpangnya, yang kemudian ditumbuk
halus dengan dicampur urine (air kencing) sapi.
Campuran ini diencerkan dengan air dengan perbandingan
1 : 2 - 6 liter. Gunakan untuk mengendalikan berbagai
jenis serangga penyerang tanaman.

Kucai (Allium schonaoresum)
Kalau menggunakan kucai, cara meramunya adalah dengan
menyeduhnya, yang kemudian didinginkan. Kemudian
saring. Air saringannya ini mampu untuk memberantas
hama yang biasanya menyerang tanaman mentimun.

Bunga Camomil (Chamaemelum spp)
Bunga yang sudah kering diseduh, kemudian dinginkan
dan saring. Gunakan air saringan tersebut untuk
mencegah damping off atau penyakit rebah.

Bawang Putih (Allium sativum)
Bawang putih, begitu juga dengan bawang bombai dan
cabai, digiling, tambahkan air sedikit, dan kemudian
diamkan sekitar 1 jam. Lalu berikan 1 sendok makan
deterjen, aduk sampai rata, dan kemudian ditutup.
Simpan di tempat yang dingin selama 7 - 10 hari. Bila
ingin menggunakannya, campur ekstrak tersebut dengan
air. Campuran ini berguna untuk membasmi berbagai
hama tanaman, khususnya hortikultura.

Abu Kayu
Abu sisa bakaran kayu ditaburkan di sekeliling
perakaran tanaman bawang bombay, kol atau lobak denga
tujuan untuk mengendalikan root maggot. Abu kayu ini
bisa juga untuk mengendalikan serangan siput dan ulat
grayak. Caranya, taburkan di sekeliling parit
tanaman.

Mint (Menta spp)
Daun mint dicampur dengan cabai, bawang daun dan
tembakau. Kemudian giling sampai halus untuk diambil
ekstraknya. Ekstrak ini dicampur dengan air
secukupnya. Dari ekstrak tersebut bisa digunakan
untuk memberantas berbagai hama yang menyerang
tanaman.

Kembang Kenikir (Tagetes spp)
Ambil daunnya 2 genggam, kemudian campur dengan 3
siung bawang putih, 2 cabai kecil dan 3 bawang
bombay. Dari ketiga bahan tersebut dimasak dengan air
lalu didinginkan. Kemudian tambahkan 4 - 5 bagian
air, aduk kemudian saring. Air saringan tersebut
dapat digunakan untuk membasmi berbagai hama tanaman.

Cabai Merah (Capsium annum)
Cara pembuatannya dengan mengeringkan cabai yang basah
dulu. Kemudian giling sampai menjadi tepung. Tepung
cabai tersebut kalau dicampur dengan air dapat
digunakan untuk membasmi hama tanaman.

Sedudu
Sedudu (sejenis tanaman patah tulang) diambil
getahnya. Getah ini bisa dimanfaatkan untuk
mengendalikan berbagai hama tanaman.

Kemanggi (Ocimum sanetu)
Cara pembuatannya: kumpulkan daun kemangi segar,
kemudian keringkan. Setelah kering, baru direbus
sampai mendidih, lalu didinginkan dan disaring. Hasil
saringan ini bisa digunakan sebagai pestisida alami.

Dringgo (Acarus calamus)
Akar dringgo dihancurkan sampai halus (menjadi
tepung), kemudian dicampur dengan air secukupnya.
Campuran antara tepung dan air tersebut dapat
digunakan sebagai bahan pembasmi serangga.

Tembelekan (Lantara camara)
daun dan cabang tembelekan dikeringkan lalu dibakar.
Abunya dicampur air dan dipercikkan ke tanaman yang
terserang hama, baik yang berupa kumbang maupun
pengerek daun.

Rumput Mala (Artimista vulgaris)
Caranya bakar tangkai yang kering dari rumput
tersebut. Kemudian manfaatkan asap ini untuk
mengendalikan hama yang menyerang suatu tanaman.

Tomat (Lycopersicum eskulentum)
Gunakan batang dan daun tomat, dan dididihkan.
Kemudian biarkan dingin lalu saring. Air dari
saringan ini bisa digunakan untuk mengendalikan
berbagai hama tanaman.

Gamal (Gliricidia sepium)
Daun dan batang gamal ditumbuk, beri sedikit air lalu
ambil ekstraknya. Ekstrak daun segar ini dan batang
gamal ini dapat digunakan untuk mengendalikan berbagai
jenis hama tanaman, khususnya jenis serangga.

Bunga Mentega (Nerium indicum)
Gunakan daun dan kulit kayu mentega dan rendamlah
dalam air biasa selama kurang lebih 1 jam, kemudian
disaring. Dari hasil saringan tadi dapat digunakan
untuk mengusir semut.

PENCEMARAN TANAH

/ Category:

Apakah yang dimaksud dengan tanah? Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 150 tahun 2000 tentang Pengendalian kerusakan tanah untuk produksi bio massa: “Tanah adalah salah atu komponen lahan berupa lapisan teratas kerak bumi yang terdiri dari bahan mineral dan bahan organik serta mempunyai sifat fisik, kimia, biologi, dan mempunyai kemampuan menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.”

Tetapi apa yang terjadi, akibat kegiatan manusia, banyak terjadi kerusakan tanah. Di dalam PP No. 150 th. 2000 di sebutkan bahwa “Kerusakan tanah untuk produksi biomassa adalah berubahnya sifat dasar tanah yang melampaui kriteria baku kerusakan tanah”.

Nah, dalam rubrik ini kami akan mencoba memaparkan beberapa hal tentang; penyebab pencemaran tanah, dampak yang ditimbulkan , dan bagaimana cara menang-gulanginya. Mudah-mudah, apa yang sajikan ini bermanfaat bagi Anda.

Penyebab Pencemaran Tanah

Tanah merupakan bagian penting dalam menunjang kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Seperti kita ketahui rantai makanan bermula dari tumbuhan. Manusia, hewan hidup dari tumbuhan. Memang ada tumbuhan dan hewan yang hidup di laut, tetapi sebagian besar dari makanan kita berasal dari permukaan tanah.. Oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban kita menjaga kelestarian tanah sehingga tetap dapat mendukung kehidupan di muka bumi ini. Akan tetapi, sebagaimana halnya pencemaran air dan udara, pencemaran tanah pun akibat kegiatan manusia juga.

Pencemaran tanah dapat disebabkan limbah domestik, limbah industri, dan limbah pertanian .

Limbah domestik

Limbah domestik dapat berasal dari daerah: pemukiman penduduk; perdagang-an/pasar/tempat usaha hotel dan lain-lain; kelembagaan misalnya kantor-kantor pemerintahan dan swasta; dan wisata, dapat berupa limbah padat dan cair.

1.

Limbah padat berupa sampah anorganik. Jenis sampah ini tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme (non-biodegradable), misalnya kan-tong plastik, bekas kaleng minuman, bekas botol plastik air mineral, dsb.

2.

Limbah cair berupa; tinja, deterjen, oli, cat, jika meresap kedalam tanah akan merusak kandungan air tanah bahkan dapat membunuh mikro-organisme di dalam tanah.

Limbah industri

Limbah domestik dapat berasal dari daerah: pemukiman penduduk; perdagang-an/pasar/tempat usaha hotel dan lain-lain; kelembagaan misalnya kantor-kantor pemerintahan dan swasta; dan wisata, dapat berupa limbah padat dan cair.

1.

Limbah industri berupa limbah padat yang merupakan hasil buangan industri berupa padatan, lumpur, bubur yang berasal dari proses pengolahan. Misalnya sisa pengolahan pabrik gula, pulp, kertas, rayon, plywood, pengawetan buah, ikan daging dll.

2.

Limbah cair yang merupakan hasil pengolahan dalam suatu proses produksi, misalnya sisa-sisa pengolahan industri pelapisan logam dan industri kimia lainnya. Tembaga, timbal, perak, khrom, arsen dan boron adalah zat-zat yang dihasilkan dari proses industri pelapisan logam


Limbah pertanian

Limbah pertanian berupa sisa-sisa pupuk sintetik untuk menyuburkan tanah/tanaman, misalnya pupuk urea Pestisida pemberantas hama tanaman, misalnya DDT.

Dampak Pencemaran Tanah

Timbulan sampah yang berasal dari limbah domestik dapat mengganggu/ mencemari karena: lindi (air sampah), bau dan estika. Timbulan sampah juga menutupi permukaan tanah sehingga tanah tidak bisa dimanfaatkan.

Selain itu, timbunan sampah dapat menghasilkan gas nitrogen dan asam sulfida, adanya zat mercury, chrom dan arsen pada timbunan sampah dapat menimbulkan gangguan terhadap bio tanah, tumbuhan, merusak struktur permukaan dan tekstur tanah. Limbah lain seperti oksida logam, baik yang terlarut maupun tidak pada permukaan tanah menjadi racun.


Sampah anorganik tidak ter-biodegradasi, yang menyebabkan lapisan tanah tidak dapat ditembus oleh akar tanaman dan tidak tembus air sehingga peresapan air dan mineral yang dapat menyuburkan tanah hilang dan jumlah mikroorganisme di dalam tanahpun akan berkurang akibatnya tanaman sulit tumbuh bahkan mati karena tidak memperoleh makanan untuk berkembang.



Limbah cair rumah tangga berupa; tinja, deterjen, oli bekas, cat, jika meresap kedalam tanah akan merusak kandungan air tanah bahkan zat-zat kimia yang terkandung di dalamnya dapat membunuh mikro-organisme di dalam tanah

Limbah padat hasil buangan industri berupa padatan, lumpur, bubur yang berasal dari proses pengolahan. Penimbunan limbah padat mengakibatkan pembusukan yang menimbulkan bau di sekitarnya karena adanya reaksi kimia yang menghasilkan gas tertentu.

Dengan tertimbunnya limbah ini dalam jangka waktu lama, permukaan tanah menjadi rusak dan air yang meresap ke dalam tanah terkontaminasi dengan bakteri tertentu yang mengakibatkan turunnya kualitas air tanah pada musim kemarau. Selain itu timbunan akan mengering dan mengundang bahaya kebakaran.

Limbah cair sisa hasil industri pelapisan logam yang mengandung zat-zat seperti tembaga, timbal, perak,khrom, arsen dan boron merupakan zat yang sangat beracun terhadap mikroorganisme. Jika meresap ke dalam tanah akan mengakibatkan kematian bagi mikroorganisme yang memiliki fungsi sangat penting terhadap kesuburan tanah.

Penggunaan pupuk yang terus menerus dalam pertanian akan merusak struktur tanah, yang menyebabkan kesuburan tanah berkurang dan tidak dapat ditanami jenis tanaman tertentu karena hara tanah semakin berkurang

Penggunaan pestisida bukan saja mematikan hama tanaman tetapi juga mikroorga-nisme yang berguna di dalam tanah. Padahal kesuburan tanah tergantung pada jumlah organisme di dalamnya. Selain itu penggunaan pestisida yang terus menerus akan mengakibatkan hama tanaman kebal terhadap pestisida tersebut.

Cara Menanggulangi Pencemaran Tanah

Limbah domestik yang berjumlah sangat banyak memerlukan penanganan khusus agar tidak mencemari tanah. Pertama sampah tersebut kita pisahkan ke dalam sampah organik yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme (biodegradable) dansampah yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme (nonbiodegradable). Oleh karena itu, sangatlah bijaksana jika setiap rumah tangga dapat memisahkan sampah atau limbah atas dua bagian yakni organik dan anorganik dalam dua wadah yang berbeda sebelum diangkut ketempat pembuangan akhir.

Sampah organik yang terbiodegradasi dapat diolah, misalnya dijadikan bahan urukan, ke-mudian kita tutup dengan tanah sehingga terdapat permukaan tanah yang dapat kita pakai lagi; dibuat kompos; khusus kotoran hewan dapat dibuat biogas dll.

Sampah anorganik yang tidak dapat diurai oleh mikroorganisme. Cara penanganan yang terbaik dengan pendaur-ulangan sampah.

Mengurangi penggunaan pupuk sintetik dan berbagai bahan kimia untuk pemberantasan hama seperti pestisida.

Mengolah limbah industri dalam pengolahan limbah, sebelum dibuang kesungai atau kelaut.

Mengurangi penggunaan bahan-bahan yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme (nonbiodegradable). Misalnya mengganti plastik sebagai bahan kemasan/pembungkus dengan bahan yang ramah lingkungan seperti dengan daun pisang atau daun jati.

Sebagian besar kekayaan kita diperloleh dari tanah. Kehidupan di bumi ini sangat bergantung pada tanah. Tumbuhan memperoleh air dan mineral dari tanah. Makanan yang kita peroleh dan hewan bergantung pada tumbuhan. Jadi makanan kita sebenarnya berasal dari tanah.

Semua bahan yang kita perlukan dalam memehuhi kebutuhan dapat diperoleh dari tanah, secara langsung maupun tidak langsung. Karena itu marilah kita bersama-sama menjaga kelestariannya, demi kelangsungan anak, cucu kita dimasa datang.



SUBER: http://www.bplhdjabar.go.id/index.php/did-you-know/lingkungan/304-pencemaran-tanah

PESTISIDA (apa itu)

/ Category:



PENDAHULUAN

Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan.

BBagi kehidupan rumah tangga, yang dimaksud hama adalah meliputi semua hewan yang mengganggu kesejahteraan hidupnya, seperti lalat, nyamuk, kecoak, ngengat, kumbang, siput, kutu, tungau, ulat, rayap, ganggang serta kehidupan lainnya yang terbukti mengganggu kesejahteraannya.


Pestisida juga diartikan sebagai substansi kimia dan bahan lain yang mengatur dan atau menstimulir pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman.
Sesuai konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penggunaan pestisida ditujukan bukan untuk memberantas atau membunuh hama, namun lebih dititiberatkan untuk mengendalikan hama sedemikian rupa hingga berada dibawah batas ambang ekonomi atau ambang kendali.

Di Indonesia untuk keperluan perlindungan tanaman, khususnya untuk pertanian dan kehutanan pada tahun 2008 hingga kwartal I tercatat 1702 formulasi yang telah terdaftar dan diizinkan penggunaannya. Sedangkan bahan aktif yang terdaftar telah mencapai 353 jenis.

Dalam pengendalian hama tanaman secara terpadu, pestisida adalah sebagai alternatif terakhir. Dan belajar dari pengalaman, Pemerintah saat ini tidak lagi memberi subsidi terhadap pestisida . Namun kenyataannya di lapangan petani masih banyak menggunakannya. Menyikapi hal ini, yang terpenting adalah baik pemerintah maupun swasta terus menerus memberi penyuluhan tentang bagaimana penggunaan pestisida secara aman dan benar. Aman terhadap diri dan lingkungannya, benar dalam arti 5 tepat (tepat jenis pestisida, tepat cara aplikasi, tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat takaran).


PERATURAN PEMERINTAH NO. 7 TAHUN 1973

Untuk melindungi keselamatan manusia dan sumber-sumber kekayaan alam khususnya kekayaan alam hayati, dan supaya pestisida dapat digunakan efektif, maka peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973. Dalam peraturan tersebut antara lain ditentukan bahwa:

* tiap pestisida harus didaftarkan kepada Menteri Pertanian melalui Komisi Pestisida untuk dimintakan izin penggunaannya
* hanya pestisida yang penggunaannya terdaftar dan atau diizinkan oleh Menteri Pertanian boleh disimpan, diedarkan dan digunakan
* pestisida yang penggunaannya terdaftar dan atau diizinkan oleh Menteri Pertanian hanya boleh disimpan, diedarkan dan digunakan menurut ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam izin pestisida itu
* tiap pestisida harus diberi label dalam bahasa Indonesia yang berisi keterangan-keterangan yang dimaksud dalam surat Keputusan Menteri Pertanian No. 429/ Kpts/Mm/1/1973 dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam pendaftaran dan izin masing-masing pestisida.

Dalam peraturan pemerintah tersebut yang disebut sebagai pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk:

* memberantas atau mencegah hama atau penyakit yang merusak tanaman, bagian tanaman atau hasil pertanian
* memberantas gulma
* mematikan daun dan mencegah pertumbuhan tanaman yang tidak diinginkan
* mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian tanaman, kecuali yang tergolong pupuk
* memberantas atau mencegah hama luar pada ternak dan hewan piaraan
* memberantas atau mencegah hama air
* memberantas atau mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah tangga
* memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang dilindungi, dengan penggunaan pada tanaman, tanah dan air.

Sesuai dengan definisi tersebut di atas maka suatu bahan akan termasuk dalam pengertian pestisida apabila bahan tersebut dibuat, diedarkan atau disimpan untuk maksud penggunaan seperti tersebut di atas.

Sedangkan menurut The United States Federal Environmental Pesticide Control Act, pestisida adalah semua zat atau campuran zat yang khusus untuk memberantas atau mencegah gangguan serangga, binatang pengerat, nematoda, cendawan, gulma, virus, bakteri, jasad renik yang dianggap hama kecuali virus, bakteria atau jasad renik yang terdapat pada manusia dan binatang lainnya. Atau semua zat atau campuran zat yang digunakan sebagai pengatur pertumbuhan tanaman atau pengering tanaman.


PERANAN PESTISIDA

Pestisida tidak hanya berperan dalam mengendalikan jasad-jasad pengganggu dalam bidang pertanian saja, namun juga diperlukan dalam bidang kehutanan terutama untuk pengawetan kayu dan hasil hutan yang lainnya, dalam bidang kesehatan dan rumah tangga untuk mengendalikan vektor (penular) penyakit manusia dan binatang pengganggu kenyamanan lingkungan, dalam bidang perumahan terutama untuk pengendalian rayap atau gangguan serangga yang lain.

Pada umumnya pestisida yang digunakan untuk pengendalian jasad pengganggu tersebut adalah racun yang berbahaya, tentu saja dapat mengancam kesehatan manusia. Untuk itu penggunaan pestisida yang tidak bijaksana jelas akan menimbulkan efek samping bagi kesehatan manusia, sumber daya hayati dan lingkungan pada umumnya.

Dalam bidang pertanian pestisida merupakan sarana untuk membunuh hama-hama tanaman. Dalam konsep Pengendalian Terpadu Hama, pestisida berperan sebagai salah satu komponen pengendalian. Prinsip penggunaannya adalah:

* harus kompatibel dengan komponen pengendalian lain, seperti komponen hayati
* efisien untuk mengendalikan hama tertentu
* meninggalkan residu dalam waktu yang tidak diperlukan
* tidak boleh persistent, jadi harus mudah terurai
* dalam perdagangan (transport, penyimpanan, pengepakan, labeling) harus memenuhi persyaratan keamanan yang maksimum
* harus tersedia antidote untuk pestisida tersebut
* sejauh mungkin harus aman bagi lingkungan fisik dan biota
* relatif aman bagi pemakai (LD50 dermal dan oral relatif tinggi)
* harga terjangkau bagi petani.

Idealnya teknologi pertanian maju tidak memakai pestisida. Tetapi sampai saat ini belum ada teknologi yang demikian. Pestisida masih diperlukan, bahkan penggunaannya semakin meningkat. Pengalaman di Indonesia dalam menggunakan pestisida untuk program intensifikasi, ternyata pestisida dapat membantu mengatasi masalah hama padi. Pestisida dengan cepat menurunkan populasi hama, hingga meluasnya serangan dapat dicegah, dan kehilangan hasil karena hama dapat ditekan.

Pengalaman di Amerika Latin menunjukkan bahwa dengan menggunakan pestisida dapat meningkatkan hasil 40 persen pada tanaman coklat. Di Pakistan dengan menggunakan pestisida dapat menaikkan hasil 33 persen pada tanaman tebu, dan berdasarkan catatan dari FAO penggunaan pestisida dapat menyelamatkan hasil 50 persen pada tanaman kapas.

Dengan melihat besarnya kehilangan hasil yang dapat diselamatkan berkat penggunaan pestisida, maka dapat dikatakan bahwa peranan pestisida sangat besar dan merupakan sarana penting yang sangat diperlukan dalam bidang pertanian. Usaha intensifikasi pertanian yang dilakukan dengan menerapkan berbagai teknologi maju seperti penggunaan pupuk, varietas unggul, perbaikan pengairan dan pola tanam akan menyebabkan perubahan ekosistem yang sering diikuti oleh meningkatnya problema serangan jasad pengganggu. Demikian pula usaha ekstensifikasi pertanian dengan membuka lahan pertanian baru, yang berarti melakukan perombakan ekosistem, sering kali diikuti dengan timbulnya masalah serangan jasad pengganggu. Dan tampaknya saat ini yang dapat diandalkan untuk melawan jasad pengganggu tersebut yang paling manjur hanya pestisida. Memang tersedia cara lainnya, namun tidak mudah untuk dilakukan, kadang-kadang memerlukan tenaga yang banyak, waktu dan biaya yang besar, hanya dapat dilakukan dalam kondisi tertentu yang tidak dapat diharapkan efektifitasnya. Pestisida saat ini masih berperan besar dalam menyelamatkan kehilangan hasil yang disebabkan oleh jasad pengganggu.


MACAM DAN CONTOH NAMA PESTISIDA

Pestisida dapat digolongkan menjadi bermacam-macam dengan berdasarkan fungsi dan asal katanya. Penggolongan tersebut disajikan sbb.:

* Akarisida, berasal dari kata akari yang dalam bahasa Yunani berarti tungau atau kutu. Akarisida sering juga disebut sebagai mitesida. Fungsinya untuk membunuh tungau atau kutu.
* Algisida, berasal dari kata alga yang dalam bahasa latinnya berarti ganggang laut. Berfungsi untuk melawan alge.
* Avisida, berasal dari kata avis yang dalam bahasa latinnya berarti burung. Berfungsi sebagai pembunuh atau zat penolak burung serta pengontrol populasi burung.
* Bakterisida, berasal dari kata latin bacterium atau kata Yunani bacron. Berfungsi untuk melawan bakteri.
* Fungisida, berasal dari kata latin fungus atau kata Yunani spongos yang berarti jamur. Berfungsi untuk membunuh jamur atau cendawan.
* Herbisida, berasal dari kata latin herba yang berarti tanaman setahun. Berfungsi membunuh gulma (tumbuhan pengganggu).
* Insektisida, berasal dari kata latin insectum yang berarti potongan, keratan atau segmen tubuh. Berfungsi untuk membunuh serangga.
* Larvisida, berasal dari kata Yunani lar. Berfungsi untuk membunuh ulat atau larva.
* Molluksisida, berasal dari kata Yunani molluscus yang berarti berselubung tipis lembek. Berfungsi untuk membunuh siput.
* Nematisida, berasal dari kata latin nematoda atau bahasa Yunani nema yang berarti benang. Berfungsi untuk membunuh nematoda (semacam cacing yang hidup di akar).
* Ovisida, berasal dari kata latin ovum yang berarti telur. Berfungsi untuk membunuh telur.
* Pedukulisida, berasal dari kata latin pedis berarti kutu, tuma. Berfungsi untuk membunuh kutu atau tuma.
* Piscisida, berasal dari kata Yunani piscis yang berarti ikan. Berfungsi untuk membunuh ikan.
* Rodentisida, berasal dari kata Yunani rodera yang berarti pengerat. Berfungsi untuk membunuh binatang pengerat, seperti tikus.
* Predisida, berasal dari kata Yunani praeda yang berarti pemangsa. Berfungsi untuk membunuh pemangsa (predator).
* Silvisida, berasal dari kata latin silva yang berarti hutan. Berfungsi untuk membunuh pohon.
* Termisida, berasal dari kata Yunani termes yang berarti serangga pelubang daun. Berfungsi untuk membunuh rayap.

Berikut ini beberapa bahan kimia yang termasuk pestisida, namun namanya tidak menggunakan akhiran sida:

* Atraktan, zat kimia yang baunya dapat menyebabkan serangga menjadi tertarik. Sehingga dapat digunakan sebagai penarik serangga dan menangkapnya dengan perangkap.
* Kemosterilan, zat yang berfungsi untuk mensterilkan serangga atau hewan bertulang belakang.
* Defoliant, zat yang dipergunakan untuk menggugurkan daun supaya memudahkan panen, digunakan pada tanaman kapas dan kedelai.
* Desiccant. zat yang digunakan untuk mengeringkan daun atau bagian tanaman lainnya.
* Disinfektan, zat yang digunakan untuk membasmi atau menginaktifkan mikroorganisme.
* Zat pengatur tumbuh. Zat yang dapat memperlambat, mempercepat dan menghentikan pertumbuhan tanaman.
* Repellent, zat yang berfungsi sebagai penolak atau penghalau serangga atau hama yang lainnya. Contohnya kamper untuk penolak kutu, minyak sereb untuk penolak nyamuk.
* Sterilan tanah, zat yang berfungsi untuk mensterilkan tanah dari jasad renik atau biji gulma.
* Pengawet kayu, biasanya digunakan pentaclilorophenol (PCP).
* Stiker, zat yang berguna sebagai perekat pestisida supaya tahan terhadap angin dan hujan.
* Surfaktan dan agen penyebar, zat untuk meratakan pestisida pada permukaan daun.
* Inhibitor, zat untuk menekan pertumbuhan batang dan tunas.
* Stimulan tanaman, zat yang berfungsi untuk menguatkan pertumbuhan dan memastikan terjadinya buah.


FORMULASI PESTISIDA

Pestisida sebelum digunakan harus diformulasi terlebih dahulu. Pestisida dalam bentuk murni biasanya diproduksi oleh pabrik bahan dasar, kemudian dapat diformulasi sendiri atau dikirim ke formulator lain. Oleh formulator baru diberi nama. Berikut ini beberapa formulasi pestisida yang sering dijumpai:

1. Cairan emulsi (emulsifiable concentrates/emulsible concentrates)
Pestisida yang berformulasi cairan emulsi meliputi pestisida yang di belakang nama dagang diikuti oleb singkatan ES (emulsifiable solution), WSC (water soluble concentrate). B (emulsifiable) dan S (solution). Biasanya di muka singkatan tersebut tercantum angka yang menunjukkan besarnya persentase bahan aktif. Bila angka tersebut lebih dari 90 persen berarti pestisida tersebut tergolong murni. Komposisi pestisida cair biasanya terdiri dari tiga komponen, yaitu bahan aktif, pelarut serta bahan perata. Pestisida golongan ini disebut bentuk cairan emulsi karena berupa cairan pekat yang dapat dicampur dengan air dan akan membentuk emulsi.
2. Butiran (granulars)
Formulasi butiran biasanya hanya digunakan pada bidang pertanian sebagai insektisida sistemik. Dapat digunakan bersamaan waktu tanam untuk melindungi tanaman pada umur awal. Komposisi pestisida butiran biasanya terdiri atas bahan aktif, bahan pembawa yang terdiri atas talek dan kuarsa serta bahan perekat. Komposisi bahan aktif biasanya berkisar 2-25 persen, dengan ukuran butiran 20-80 mesh. Aplikasi pestisida butiran lebih mudah bila dibanding dengan formulasi lain. Pestisida formulasi butiran di belakang nama dagang biasanya tercantum singkatan G atau WDG (water dispersible granule).
3. Debu (dust)
Komposisi pestisida formulasi debu ini biasanya terdiri atas bahan aktif dan zat pembawa seperti talek. Dalam bidang pertanian pestisida formulasi debu ini kurang banyak digunakan, karena kurang efisien. Hanya berkisar 10-40 persen saja apabila pestisida formulasi debu ini diaplikasikan dapat mengenai sasaran (tanaman).
4. Tepung (powder)
Komposisi pestisida formulasi tepung pada umumnya terdiri atas bahan aktif dan bahan pembawa seperti tanah hat atau talek (biasanya 50-75 persen). Untuk mengenal pestisida formulasi tepung, biasanya di belakang nama dagang tercantum singkatan WP (wettable powder) atau WSP (water soluble powder).
5. Oli (oil)
Pestisida formulasi oli biasanya dapat dikenal dengan singkatan SCO (solluble concentrate in oil). Biasanya dicampur dengan larutan minyak seperti xilen, karosen atau aminoester. Dapat digunakan seperti penyemprotan ULV (ultra low volume) dengan menggunakan atomizer. Formulasi ini sering digunakan pada tanaman kapas.
6. Fumigansia (fumigant)
Pestisida ini berupa zat kimia yang dapat menghasilkan uap, gas, bau, asap yang berfungsi untuk membunuh hama. Biasanya digunakan di gudang penyimpanan.


KIMIA PESTISIDA

Pestisida tersusun dan unsur kimia yang jumlahnya tidak kurang dari 105 unsur. Namun yang sering digunakan sebagai unsur pestisida adalah 21 unsur. Unsur atau atom yang lebih sering dipakai adalah carbon, hydrogen, oxigen, nitrogen, phosphor, chlorine dan sulfur. Sedangkan yang berasal dari logam atau semi logam adalah ferum, cuprum, mercury, zinc dan arsenic.

1. Sifat pestisida
Setiap pestisida mempunyai sifat yang berbeda. Sifat pestisida yang sering ditemukan adalah daya, toksisitas, rumus empiris, rumus bangun, formulasi, berat molekul dan titik didih.
2. Tata Nama Pestisida
Pengetahuan pestisida juga meliputi struktur dan cara pemberian nama atau dikenal dengan tata nama.
3. Cara Kerja Pestisida
* Pestisida kontak, berarti mempunyai daya bunuh setelah tubuh jasad terkena sasaran.
* Pestisida fumigan, berarti mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran terkena uap atau gas
* Pestisida sistemik, berarti dapat ditranslokasikan ke berbagai bagian tanaman melalui jaringan. Hama akan mati kalau mengisap cairan tanaman.
* Pestisida lambung, berarti mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran memakan pestisida.

CARA PENGGUNAAN PESTISIDA

Cara penggunaan pestisida yang tepat merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan pengendalian hama. Walaupun jenis obatnya manjur, namun karena penggunaannya tidak benar, maka menyebabkan sia-sianya penyemprotan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida, di antaranya adalah keadaan angin, suhu udara, kelembapan dan curah hujan. Angin yang tenang dan stabil akan mengurangi pelayangan partikel pestisida di udara. Apabila suhu di bagian bawah lebih panas, pestisida akan naik bergerak ke atas. Demikian pula kelembapan yang tinggi akan mempermudah terjadinya hidrolisis partikel pestisida yang menyebabkan kurangnya daya racun. Sedang curah hujan dapat menyebabkan pencucian pestisida, selanjutnya daya kerja pestisida berkurang.

Hal-hal teknis yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida adalah ketepatan penentuan dosis. Dosis yang terlalu tinggi akan menyebabkan pemborosan pestisida, di samping merusak lingkungan. Dosis yang terlalu rendah menyebabkan hama sasaran tidak mati. Di samping berakibat mempercepat timbulnya resistensi.

1. Dosis pestisida
Dosis adalah jumlah pestisida dalam liter atau kilogram yang digunakan untuk mengendalikan hama tiap satuan luas tertentu atau tiap tanaman yang dilakukan dalam satu kali aplikasi atau lebih. Ada pula yang mengartikan dosis adalah jumlah pestisida yang telah dicampur atau diencerkan dengan air yang digunakan untuk menyemprot hama dengan satuan luas tertentu. Dosis bahan aktif adalah jumlah bahan aktif pestisida yang dibutuhkan untuk keperluan satuan luas atau satuan volume larutan. Besarnya suatu dosis pestisida biasanya tercantum dalam label pestisida.
2. Konsentrasi pestisida
Ada tiga macam konsentrasi yang perlu diperhatikan dalam hal penggunaan pestisida
* Konsentrasi bahan aktif, yaitu persentase bahan aktif suatu pestisida dalam larutan yang sudah dicampur dengan air.
* Konsentrasi formulasi, yaitu banyaknya pestisida dalam cc atau gram setiap liter air.
* Konsentrasi larutan atau konsentrasi pestisida, yaitu persentase kandungan pestisida dalam suatu larutan jadi.
3. Alat semprot
Alat untuk aplikasi pestisida terdiri atas bermacam-macam seperti knapsack sprayer (high volume) biasanya dengan volume larutan konsentrasi sekitar 500 liter. Mist blower (low volume) biasanya dengan volume larutan konsentrasi sekitar 100 liter. Dan Atomizer (ultra low volume) biasanya kurang dari 5 liter.
4. Ukuran droplet
Ada bermacam-macam ukuran droplet:
Veri coarse spray
lebih 300 µm
Coarse spray
400-500 µm
Medium spray
250-400 µm
Fine spray
100-250 µm
Mist
50-100 µm
Aerosol
0,1-50 µm
Fog
5-15 µm

5. Ukuran partikel
Ada bermacam-macam ukuran partikel:
Macrogranules
lebih 300 µm
Microgranules
100-300 µm
Coarse dusts
44-100 µm
Fine dusts
kurang 44 µm
Smoke
0,001-0,1 µm

6. Ukuran molekul hanya ada satu macam, yatu kurang 0,001 µm

PETUNJUK PENGGUNAAN PESTISIDA

1. Memilih pestisida
Di pasaran banyak dijual formulasi pestisida yang satu sama lain dapat berbeda nama dagangnya, walaupun mempunyai bahan aktif yang sama. Untuk memilih pestisida, pertama yang harus diingat adalah jenis jasad pengganggu yang akan dikendahikan. Hal tersebut penting karena masing-masing formulasi pestisida hanya manjur untuk jenis jasad pengganggu tertentu. Maka formulasi pestisida yang dipilih harus sesuai dengan jasad pengganggu yang akan dikendalikan. Untuk mempermudah dalam memilih pestisida dapat dibaca pada masing-masing label yang tercantum dalam setiap pestisida. Dalam label tersebut tercantumjenis-jenis jasad pengganggu yang dapat dikendahikan. Juga tercantum cara penggunaan dan bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan.
Untuk menjaga kemanjuran pestisida, maka sebaiknya belilah pestisida yang telah terdaftar dan diizinkan oleb Departemen Pertanian yang dilengkapi dengan wadah atau pembungkus asli dan label resmi. Pestisida yang tidak diwadah dan tidak berlabel tidak dijamin kemanjurannya.
2. Menyimpan pestisida
Pestisida senantiasa harus disimpan dalam keadaan baik, dengan wadah atau pembungkus asli, tertutup rapat, tidak bocor atau rusak. Sertakan pula label asli beserta keterangan yang jelas dan lengkap. Dapat disimpan dalam tempat yang khusus yang dapat dikunci, sehingga anak-anak tidak mungkin menjangkaunya, demikian pula hewan piaraan atau temak. Jauhkan dari tempat minuman, makanan dan sumber api. Buatlah ruang yang terkunci tersebut dengan ventilasi yang baik. Tidak terkena langsung sinar matahari dan ruangan tidak bocor karena air hujan. Hal tersebut kesemuanya dapat menyebabkan penurunan kemanjuran pestisida.
Untuk berjaga-jaga apabila sewaktu-waktu pestisida tumpah, maka harus disediakan air dan sabun ditergent, beserta pasir, kapur, serbuk gergaji atau tanah sebagai penyerap pestisida. Sediakan pula wadah yang kosong, sewaktu-waktu untuk mengganti wadah pestisida yang bocor.
3. Menggunakan pestisida
Untuk menggunakan pestisida harus diingat beberapa hal yang harus diperhatikan:
* Pestisida digunakan apabila diperlukan
* Sebaiknya makan dan minum secukupnya sebelum bekerja dengan pestisida
* Harus mengikuti petunjuk yang tercantum dalam label
* Anak-anak tidak diperkenankan menggunakan pestisida, demikian pula wanita hamil dan orang yang tidak baik kesehatannya
* Apabila terjadi luka, tutuplah luka tersebut, karena pestisida dapat terserap melalui luka
* Gunakan perlengkapan khusus, pakaian lengan panjang dan kaki, sarung tangan, sepatu kebun, kacamata, penutup hidung dan rambut dan atribut lain yang diperlukan
* Hati-hati bekerja dengan pestisida, lebih-lebih pestisida yang konsentrasinya pekat. Tidak boleh sambil makan dan minum
* Jangan mencium pestisida, karena pestisida sangat berbahaya apabila tercium
* Sebaiknya pada waktu pengenceran atau pencampuran pestisida dilakukan di tempat terbuka. Gunakan selalu alat-alat yang bersih dan alat khusus
* Dalam mencampur pestisida sesuaikan dengan takaran yang dianjurkan. Jangan berlebih atau kurang
* Tidak diperkenankan mencampur pestisida lebih dari satu macam, kecuali dianjurkan
* Jangan menyemprot atau menabur pestisida pada waktu akan turun hujan, cuaca panas, angin kencang dan arah semprotan atau sebaran berlawanan arah angin. Bila tidak enak badan berhentilah bekerja dan istirahat secukupnya
* Wadah bekas pestisida harus dirusak atau dibenamkan, dibakar supaya tidak digunakan oleh orang lain untuk tempat makanan maupun minuman
* Pasanglah tanda peringatan di tempat yang baru diperlakukan dengan pestisida
* Setelah bekerja dengan pestisida, semua peralatan harus dibersihkan, demikian pula pakaian-pakaian, dan mandilah dengan sabun sebersih mungkin.

PETUNJUK KEAMANAN, PERTOLONGAN PERTAMA PADA KERACUNAN

* Petunjuk Keamanan
o Jangan makan/minum atau merokok pada waktu bekerja.
o Pakailah sarung tangan, pelindung tubuh, topeng muka, gunakan pakaian berlengan panjang /celana panjang serta jauhkan dari nyala api pada waktu membuka wadah dan memindahkan pada waktu bekerja
o Sebelum makan, minum atau merokok dan setelah bekerja, cucilah tangan atau kulit yang terkena insektisida ini dengan air sabun, yang banyak, jangan menggunakan insektisida ini 10 hari sebelum tanaman dipanen untuk tanaman pangan.
o Setelah digunakan cucilah dengan air semua peralatan semprot dan pakaian pelindung jangan mencemari kolam, perairan dan sumber air lainnya dengan insektisida ini atau wadah bekasnya.
o Simpan insektisida ini secara tertutup rapat di tempat sejuk dan kering, jauh dari bahan makanan, api, sumber air dan jangkauan anak-anak.
o Rusakkanlah wadah bekasnya, kemudian tanamlah sekurang-kurangnya 0,5 meter di dalam tanah dan jauh dari sumber air.

* Gejala Dini Keracunan
o Kulit atau mata terasa gatal atau terbakar, pusing, sakit kepala, banyak menimbulkan keringat, mual, mencret,badan gemetar, pingsan.
o Apabila satu atau lebih gejala tersebut timbul, segera berhenti bekerja, lakukan tindakan pertolongan pertama dan pergilah ke Puskesmas/dokter terdekat.

* Petunjuk Pertolongan Pertama pada Keracunan
o Tanggalkan pakaian yang terkena insektisida ini.
o Apabila kulit terkena, segera cuci dengan sabun dan air yang banyak.
o Apabila mata terkena, cucilah segera dengan air bersih selama sedikitnya 15 menit.
o Apabila tertelan dan penderita masih sadar, segera usahakan permuntahan dengan memberikan segelas air hangat yang diberi 1 sendok garam dapur atau dengan cara menggelitik tenggorokan penderita dengan jari tangan yang bersih sampai cairan muntahan menjadi jernih.
o Jangan memberi sesuatu melalui mulut kepada penderita yang pingsan/tidak sadar.
o Apabila terhisap segera dibawa ke ruangan yang berudara sejuk/segar, apabila perlu berikan pernafasan buatan melalui mulut atau dengan pemberian oksigen.

* Perawatan oleh Dokter
Perawatan dilakukan secara simptomatik sesuai dengan gejala yang timbul

BANYAK HAL TENTANG CABE

/ Category:

lihat di JARINGAN BLOGER di halaman ini paling bawah

TIPS BUDIDAYA CABE

/ Category:

SYARAT PERTUMBUHAN

A. TANAH

1. Semua jenis tanah, mulai andosol yang berwarna gelap ( kaya bahan organik ), latosol, regosol dan grumosol dapat ditanami cabe hibrida .



2. pH tanah merupakan faktor penting dalam pelaksanaan teknik budidaya. pH tanah
berpengaruh terhadap mudah tidaknya unsur-unsur hara yang diserap oleh tanaman. pH tanah optimal untuk pertumbuhan tanaman adalah 5,8 - 6,8. Pada umumnya tanah di pulau Jawa ber pH asam, rata - rata ber pH 5,4. Untuk menetralkan pH tanah
dapat ditambahkan kapur pertanian, misal:
Dolomit dengan dosis 2 - 3,6 ton / Ha. ( atau 200 - 360 g / m2 ). Al, Mn dan Fe banyak dikandung pada tanah yang ber pH asam. Pada tanah yang ber pH asam unsur hara tanaman, terutama P, K,S, Mg dan Mo tidak dapat diserap tanaman karena terikat oleh Al, Mn dan Fe. Pada tanah pH netral, sebagian besar unsur hara mudah larut dalam air sehingga mudah diserap tanaman.
pH tanah berfungsi mendeteksi adanya unsur-unsur beracun. Ion-ion Al, Mn dan Fe pada tanah ber pH asam dapat meracuni tanaman. Selain itu unsur mikro Zn, Cu dan Co pada tanah ber pH asam, bila ketersediaannya terlalu banyak berakibat meracuni tanaman. Demikian juga pada tanah ber pH basa, Mo dalam jumlah banyak berakibat meracuni tanaman. pH tanah mempengaruhi perkembangan mikro organisme. Lodoh / Lomot / Cendawan rebah kecambah (Rhizoctonia sp dan Pythium sp ) serta layu Fusarium, berkembang baik pada tanah-tanah asam. Cendawan yang hidup pada pH tanah diatas 5,5 akan berkompetisi dengan bakteri.

B. AIR

Air sangat penting dalam keberhasilan bertanam cabe hibrida. Air berfungsi sebagai: pelarut unsur hara didalam tanah, pengangkut unsur hara ke organ tanaman, dalam proses fotosintesa dan respirasi. Kualitas air harus benar-benar diperhatikan.

C. IKLIM

1. Angin kencang sangat merugikan tanaman cabe hibrida, selain cabang mudah patah, bunga yang saatnya diserbuki menjadi gagal diserbuki dan akhirnya rontok.

2. Curah hujan yang tinggi berakibat bunga cabe rontok dan bunga
gagal diserbuki oleh lebah. Air hujan yang menggenang diselokan mengurangi porositas tanah sehingga mengganggu pernapasan akar tanaman dan meningkatkan kelembaban di sekitar tanaman.
3. Cahaya matahari penting untuk fotosintesa, pembentukan bunga serta pembentukan dan pemasakan buah cabe. Untuk pembungaan yang normal, cabe hibrida membutuhkan intensitas cahaya cukup banyak, yaitu antara 10-12 jam penyinaran matahari.

4. Suhu untuk perkecambahan benih cabe hibrida antara 25-30 0C. Suhu optimal untuk pertumbuhan berkisar 24-28 0C. Suhu yang terlalu dingin menyebabkan pembentukan bunga kurang sempurna dan pemasakan buah lebih lama. Sebaliknya lokasi penanaman cabe hibrida di bawah 1.400 m dpl, suhu tinggi, kering dan pengairan kurang menyebabkan penguapan / transpirasi tinggi sehingga daun dan buah banyak yang rontok serta buah yang terbentuk tidak sempurna.

5. Kelembaban relatif yang optimal untuk cabe hibrida adalah 80%. Suhu dan kelembaban yang tinggi akan meningkatkan intensitas serangan bakteri Pseudomonas solanacearum penyebab layu akar serta merangsang perkembangbiakan cendawan.

D.RUMAH PEMBIBITAN dan MEDIA SEMAI

1. Rumah Pembibitan

Lahan untuk rumah pembibitan < 1% luas lahan. ( Untuk penanaman 1Ha diperlukan rumah pembibitan < 100 m ).
Ukuran rumah pembibitan yang ideal adalah panjang 10 - 12 m, lebar 1 -1,2 m dan tinggi 0,75 m.

2. Media Semai Tanah terdiri dari pupuk kandang, NPK dan fungisida Kocide 60 WDG ( untuk soil treatment ). Dengan perbandingan 2 : 1
( tanah: pupuk kandang) sedangkan tiap 1 m media semai ditaburi 500 g NPK dan 2 g Kocide 60 WDG. Dianjurkan disiram Kompos Cair BIO LEMI dosis 1 - 2 cc/ lt untuk mempertebal daun dan menguatkan batang bibit cabe sehingga saat pindah tanam tidak mudah layu.

E. PERSIAPAN LAHAN.

1.Pembuatan Bedengan
Kasar. Panjang: 10 - 12 m; lebar: 1,10 - 1,20 m; tinggi: 0,30 - 0,40 m
( pada musim kemarau ) atau 0,50 m
( penghujan ), lebar selokan: 0,50 - 0,55 m
( kemarau ) atau 0,60 - 0,70 m ( penghujan ).

2. Pengapuran pada bedengan dengan dosis 1,5 - 3,0 ton / Ha ( atau 150 - 300 g / m ).

3. Sterilisasi tanah ( soil treatment), menggunakan KOCIDE 60 WDG dengan dosis 20 Kg/Ha (atau 2 g/m ).

4. Pemupukan
a. Pupuk Kandang.
Ciri - ciri pupuk kandang yang sudah matang adalah tidak panas, tidak mengeluarkan bau dan wujud fisiknya menyerupai tanah ( agak kehitaman ).
Catatan:
Pupuk kandang yang belum matang dapat disempurnakan ( di matangkan ) dengan BIO ACTIVATOR dengan dosis 0,5 - 1 lt untuk tiap 1 ton pupuk kandang atau kompos.

b. Pupuk Buatan.

Urea 200 Kg/Ha, SP36 650 Kg/Ha, KCl 400 Kg/Ha, ZA 600 Kg/Ha dan FITOMIC ( Ca = 10 %;B = 2 %; Sukrosa = 10 % ) 10 lt/Ha.
(5 X penyemprotan mulai berbunga).

c. Pupuk Tambahan.

Pupuk daun , MAMIGRO N ( 25-5-5 ) dengan dosis 2 g / lt pada tanaman umur 14 dan 21 hari setelah tanam ( hst ); MAMIGRO P ( 12-27-23 ) dengan dosis 2 g/lt mulai umur 35 hstdengan interval satu minggu.

F. PEMASANGAN AJIR
Ajir sebaiknya segera dipasang setelah pindah tanam, agar tidak merusak perakaran tanaman.Setelah tanaman berumur 30 hst, antara ajir yang satu dengan lainnya yang berada dalam satu bedengan harus dibentangkan tali untuk tempat bersandarnya percabangan. Adapun letak tali pada ajir adalah sejajar dengan letak cabang nomor dua dari tanaman. Pemasangan tali sangat berguna untuk meletakkan percabangan tanaman, sebab pada percabangan ini biasanya terdapat buah yang sangat banyak yang apabila tanpa diberi penguat atau penyangga seringkali terjadi cabang patah.

G PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT UTAMA

a. Kutu Thrips (Thrips parvispinus Karny)

Hama ini menghisap cairan bunga dan daun muda sehingga menimbulkan gugurnya bunga dan daun mudah menjadi keriting. Thrips berkembang biak secara takkawin (parthenogenesis) sehingga populasinya berkembang sangat cepat, merupakan vektor berbagai macam penyakit virus.
Pengendalian: untuk serangan ringan dapat menggunakan Curacron, tetapi untuk serangan yang berat dianjurkan memakai Confidor atau Oncol sesuai dosis yang dianjuran.

b. Lalat Buah ( Dacus dorsalis Hend )

Lalat betina menusuk buah cabe dengan alat peletak telor kedalam daging buah cabe. Telur menetas dan menjadi belatung / larva lalat buah akan keluar atau masuk kedalam tanah untuk berubah menjadi pupa dan seterusnya menjadi lalat buah muda. Pada serangan yang parah, buah cabai busuk dan rontok.
Pengendalian:
Pemasangan perangkap (sex pheromone) dan penyemprotan dengan Regent 50 SC, konsentrasi 1cc / lt.
c. Ulat Buah / Ulat Bor (Heliocoverpa spp. HSN).
Ulat menyerang cabe dengan cara mengebor buahsambil memakannya.
Pengendalian:
Decis 2,5 EC konsentrasi 1,5 ml / lt atau Regent 50 SC konsentrasi 1 ml / lt.

d. Kutu Persik / Aphid Hijau (Myzus persicae. Sulz).

Aphid menghisap cairan daun muda dan bagian tanaman lain yang masih muda. Hama ini mengeluarkan cairan manis yang akan mengundang cendawan jelaga. Pada serangan berat, daun menguning/klorosis, menggulung dan keriting yang akhirnya gugur. Hama ini tidak kawin dan telur menetas di perut induknya. Aphid sebagai penular penyakit virus, antara lain Tobacco Mozaic Virus ( TMV ).
Pengendalian:
Disemprot dengan Confidor atau Oncol.

e. Tungau / Mites
( Polyphago tarso nemus latus dan
Tetranychus Cinna barinus ).
Gejalanya serangan ditandai dengan warna kecoklatan pada daun. Umumnya tungau bersembunyi dibalik daun. Daun yang terserang menjadi terpelintir, menebal, dan ujung tanaman mati. Pada permukaan bawah daun terdapat benang-benang putih halus.
Pengendalian :
Tanaman disemprot dengan Curacron atau campuran Nissorun dan Omite atau Agrimec.

2. Penyakit-Penyakit Utama.

a. Rebah Semai/ Lodoh/Lomot (Damping Off )
Disebabkan oleh cendawan Pythium dedarianum Hesse dan Rhizoctonia solani Kuhn. Tergolong pathogen tular tanah.
Pengendalian:
Sterilisasi tanah ( soil treatment ) dengan Kocide 60 WDG 2 g/m. Dengan seed treatment menggunakan Saromyl 35SD.Penyemprotan fungisida sistemik dan kontak yaitu: Previcur N dan Kocide 77WPdengan dosis 0,5 - 1.0 g/lt pada persemaian umur 14 hari.
b. Layu Fusarium
(Fusarium Oxysporium S. sp.)
Gejala serangan ditandai pucatnya tulang daun atas, tangkai menunduk. Bila pangkal batang dipotong terlihat cincin coklat kehitaman yang busuk basah.
Pengendalian:
Pengapuran lahan sebelum penanaman bila pH tanah asam, penyemprotan fungisida sistemik dan kontak yaitu Derosal 60 WP, Score 250 EC, Kocide 77 WP dll. Tanaman yang terkena serangan berat dicabut, tanah jangan tercecer, pada lubang ditaburi kapur secukupnya. Untuk pencegahan dapat dilakukan dengan penyiraman Kocide 77 WP konsentrasi 5 g /lt dengan volume siram 250 - 300 cc / tanaman.

c. Busuk Phytophthora ( Phytophtora capsici leonian ).
Patogen tular tanah dapat terbawa benih, menyerang pada setiap fase pertumbuhan dan setiap bagian tanaman. Daun yang terserang terdapat bercak, tepi ujungnya seperti tersiram air panas. Buah yang terserang berwarna coklat basah, busuk dan gugur.
Pengendalian:
Bagian tanaman yang terserang dipotong, dioles fungisida tembaga ( Kocide 77 WP dosis 5 -10 g / lt ) dan fungisida sistemik ( Topsin, Ridomil, Anvil, dll ). Sanitasi lingkungan, memotong bagian tanaman yang terserang kemudian dibakar atau dibenamkan dalam tanah.

d. Busuk Kuncup Teklik
Menyerang bunga, tangkai bunga, pucuk tanaman dan ranting tanaman. Penyebabnya cendawan Choanephora Cucurbitarum Beret Rav. Thaxt.
Pengendalian:
Sterilisasi tanah dengan Kocide 60 WDG 2 g/lt. Penyemprotan Dithane M-45 atau Kocide 77 WP 2 g/lt.

e. Antraknose / Pathek.
Antraknose dapat terbawa, tumbuh dan bertahan dalam biji selama 9 bulan. Pada suhu dan kelembaban tinggi ( 95 %; 320 C ), penyakit ini berkembang pesat. Penyebabnya: Colletotrichum capsici (Syd) dan Gloesporium piperantum. Ell. Cendawan C. Capsici menginfeksi dengan membentuk bercak coklat kehitaman kemudian menjadi busuk lunak. Pada bagian tengah bercak terlihat kumpulan titik - titik hitam koloni cendawan.
Cendawan C. Piperatum menyerang tanaman cabai mulai buah masih berwarna hijau dan menyebabkan mati ujung. Buah yang terserang terdapat bintik - bintik kecil berwarna hitam dan berlekuk. Bintik - bintik ini pada tepi berwarna kuning, selanjutnya membesar dan memanjang. Pada kondisi yang lembab cendawan memiliki lingkaran memusat (konsentris) berwarna merah jambu.
Pengendalian:
Menanam benih cabai bebas pathogen, yaitu rendam benih dengan air panas 550 C selama 30 menit ( seed treatment dengan saromyl 35 SD). Semua cabai yang terserang pathek dipanen tiap hari dan dipisahkan dengan cabai sehat, kemudian dibakar. Penyemprotan : Derosal 60 WP yang dicampur dengan Kocide 77 WP 2 - 3 g /lt.

TEKNIK BUDIDAYA SEMANGKA (standart)

/ Category:


Semangka merupakan tanaman semusim, yang buahnya banyak digemari karena memberikan rasa segar terutama jika dimakan pada waktu cuaca panas. Penanaman semangka umumnya dilakukan di lahan sawah setelah padi dengan memanfaatkan air irigasi, namun tidak menutup kemungkinan bila dibudidayakan di lahan kering yang memiliki sumber air kecil pada musim kemarau dengan memanfaatkan teknologi tandon air/embung. Dengan pengelolaan air dari tandon air/embung memungkinkan diperoleh keuntungan yang lebih tinggi jika dimanfaatkan untuk berusahatani semangka dibandingkan dengan tanaman lain seperti jagung dan kacang tanah.


SYARAT TUMBUH

Semangka biasanya di tanam pada dataran rendah dan akan berhasil baik bila ditanam dengan keadaan daerah sebagai berikut:

  • Ketinggian 100-300 m dpl.
  • Topografi datar, tekstur tanah berpasir atau lempung berpasir, struktur remah dan gembur, banyak mengandung bahan organik, pH berkisar 5,9-7,2.
  • Tempat terbuka, penyinaran penuh dengan kisaran suhu 22' C-30'C dan kelembaban kurang dari 80%.
  • Rata-rata curah hujan 40-50 mm/bulan.

TEKNIK BUDIDAYA


  1. Pengolahan tanah dan persiapan bedengan
    Pengolahan tanah untuk tanaman semangka sedikit berbeda dengan
    tanaman hortikultura lainnya. Bedengan dibuat dengan lebar 3 meter dan
    bagian yang diolah hanya 80-100 cm dari pinggir, sedangkan bagian
    tengahnya cukup dibabat saja. Tanah yang diolah dibuat guludan dan
    pada pinggir guludan dibuat saluran drainase dengan lebar 40 cm dan
    kedalaman ± 10-15 cm, yang nantinya digunakan untuk
    mengairi/penyiraman.
  2. Pembuatan lubang dan pemberian pupuk kandang
    Lubang tanam dibuat pada guludan dengan ukuran 20x20x20 cm, dan jarak antar lubang ± 1 meter. Pupuk kandang diberikan seminggu sebelum tanam sebanyak 2-3 kg setiap lubang dengan cara mencampurkan pada tanah galian lubang.
  3. Pembibitan
    Agar benih dapat tumbuh baik, sehat dan cepat beradaptasi dengan lingkungan maka perlu disesuaikan terlebih dahulu dengan kegiatan sebagai berikut:· Benih direndam dalam larutan Benlate atau Dithane M-45 (0,5-1
    gram/liter) selama ± 6 jam.
    · Siapkan 3 lembar kertas koran yang telah dibasahi, letakkan/susun benih yang telah direndam kemudian tutup dengan 3 lembar kertas koran yang telah dibasahi dan selama + 2 hari usahakan kertas koran dalam keadaan lembab.
    · Setelah benih berkecambah dapat dipindahkan ke kantong plastik/polybag dengan media semai dari tanah dan pupuk kandang (3 :1).
    · Persemaian/polybag ditempatkan pada tempat terbuka dengan diberi naungan yang dapat diatur.
    · Pemeliharaan bibit meliputi penyiraman, pengaturan naungan dan pengendalian hama dan penyakit.
  4. Penanaman
    Bibit semangka siap dipindahkan apabila telah berdaun 4 lembar (berumur 14 hari). Bibit ditanam pada lubang tanam yang telah disiapkan 2 tanaman per lubang. Penanaman bibit dilakukan dengan cara membasahi media bibit kemudian kantong polybag disobek dengan pisau dan dilepas, lalu bibit ditanam sebatas leher akar tanaman.
  5. Pemberian mulsa
    Mulsa diberikan dengan menghamparkan mulsa (jerami) di atas permukaan bedengan.
  6. Pemeliharaan tanaman:
  • Pemupukan
    Pertumbuhan dan hasil tanaman semangka ditentukan oleh ketersediaan hara di dalam tanah, sehingga untuk memenuhi kebutuhannya diperlukan usaha pemupukan. Sebagai acuan pemupukan disajikan pads tabel berikut :
  1. Pupuk Kandang: 2-3 kg/lubang diberikan 7 hari sebelum tanam
  2. Urea/Za: 10gr/lubang, diberikan ketika berumur: saat tanam, 14 HST, 28 HST, 42 HST.
  3. SP-36: 10gr/lubang, diberikan ketika berumur: saat tanam, 14 HST, 28 HST.
  4. KCl:10gr/lubang, diberikan ketika berumur: saat tanam, 14 HST, 28 HST, 42 HST.
  • Penyiraman
    Penyiraman dilakukan 4 hari sekali dengan mengalirkan air dari tandon air ke selokan dan dibiarkan sampai selokan penuh dan air meresap ke petakan tanaman.
  • Penyiangan
    Penyiangan dilakukan apabila gulma tumbuh di petakan lahan dan sebaiknya dilakukan bersamaan dengan pemupukan tanaman.
  • Pengendalian hama dan penyakit
    Untuk mendapatkan hasil yang optimal, pengendalian hama penyakit sangat penting, oleh karena itu harus dilakukan tepat waktu, tepat dosis dan jenis obat. Pencegahan terhadap serangan hama dan penyakit diperlukan penyemprotan secara rutin 5-7 hari sekali baik menggunakan insektisida maupun fungisida sesuai engan gejala serangan.
  • Pemangkasan dan pemilihan buah
    Untuk mendapatkan bush yang berukuran besar dalam satu tanaman cukup dipelihara 1-2 buah saja. Untuk itu dipilih dua cabang lateral ditambah satu cabang utama. Bakal buah yang dipertahankan yaitu bakal bush yang tumbuh pada jarak 1,5-2 m dari pangkal batang atau antara ruas 8-15.
  • Panen
    Panen dilakukan apabila buah sudah masak yang ditandai dengan sudah mengeringnya sulur dekat tangkai buah atau tangkai buah sudah kekuningan dan bila buah diketuk terasa bergetar.

suber: Suprapto dan Nyoman Adi Jaya (2000). Laporan Akhir Penelitian SUT
Diversivikasikan Lahan Marginal di Kecamatan Gerokgak, Buleleng


Grafting Watermelon Onto Squash or Gourd Rootstock Makes Firmer, Healthier Fruit

/ Category:

Grafted melon tumbuh lebih dekat dengan kelangsungan hidup komersial

/ Category:


Pada tahun kedua penelitian, tujuh labu dan squash rootstocks sedang diperiksa untuk perlawanan penyakit dan kemudahan mencangkok untuk melindungi semangka terhadap layu Fusarium yang dapat menghancurkan tanaman melon. Mencangkok, banyak digunakan di Asia, menawarkan alternatif untuk menggunakan pestisida kimia metil bromida.

Richard Hassell, hortikulturis di Clemson's Pesisir Penelitian dan Pendidikan Center di Charleston, adalah mengadaptasi sistem produksi yang dicangkokkan untuk digunakan di South Carolina. Dia adalah penjarangan baris mengevaluasi dan mencari cara untuk mengurangi biaya mencangkok. Ia berharap kualitas yang lebih baik dan lebih produksi buah per tanaman akan mengimbangi biaya $ 1 dari setiap dicangkokkan transplantasi.

"Kami memiliki beberapa indikasi yang dicangkokkan tegas fleshed melon menghasilkan buah, yang dipotong kepentingan industri yang segar," kata Hassell.

Semangka Nasional Asosiasi dikirim dicangkokkan tanaman untuk evaluasi di lokasi penelitian di Florida, Georgia, South Carolina dan North Carolina. Di South Carolina, penanaman berada di Clemson's Pesisir pusat dan Edisto Pusat Penelitian dan Pendidikan di Blackville. Proyek dukungan juga datang dari semangka asosiasi di setiap negara.

EFEK GRAFTING UNTUK SEMANGKA ATAU MELON

/ Category:


Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa
tidak terjadi interaksi yang nyata antara
perlakuan penyambungan dengan beberapa
varietas melon sebagai batang atas pada
parameter saat pecah tunas, panjang tanaman,
jumlah daun dan umur saat berbunga. Pada
Tabel 1 dapat diketahui bahwa penyambungan
melon dengan waluh menyebabkan waktu yang
dibutuhkan untuk pecah tunas lebih lama
dibandingkan dengan tanaman yang tanpa
disambung. Hal tersebut disebabkan tanaman
melon sambungan membutuhkan waktu untuk
membentuk kalus dan menyembuhkan luka
bekas sambungan (Setiadi dan Parimin, 2002).
Panjang tanaman, jumlah daun dan saat
berbunga dipengaruhi oleh perlakuan penyambungan
melon dengan waluh. Tanaman
yang disambung menunjukkan panjang tanaman
dan jumlah daun lebih besar daripada tanpa
disambung, dan dapat mempercepat waktu berbunga.
Menurut Golecki dan Schulz (1998),
ketika tanaman disambung akan terjadi penambahan
protein yang terdiri atas sekurangkurangnya
9 polipeptida yang akan muncul pada
batang atas setelah 9-11 hari dilakukan
penyambungan. Perbedaan polipeptida tersebut
diduga akan mempengaruhi karakter tumbuh
tanaman dan akan diproyeksikan pada pertumbuhan
vegetatif dan generatif tanaman.
Perbedaan varietas melon yang diuji
hanya berpengaruh nyata pada peubah panjang
tanaman dan jumlah daun. Varietas Ten Me
menunjukkan tanaman terpanjang, sedangkan
Autumn Sweet mempunyai jumlah daun
terbanyak. Ketiga varietas tersebut tidak
menunjukkan beda nyata pada saat pecah tunas
dan waktu berbunga.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa
terjadi interaksi antara perlakuan penyambungan
dengan beberapa varietas tanaman melon Ameria
sebagai batang atas pada peubah berat buah dan
diameter buah. Pada Tabel 2 dapat diketahui
bahwa varietas Ameria sangat respons terhadap
penyambungan dan menunjukkan pertambahan
berat buah terbesar yaitu kenaikan sebesar 63.5%,
varietas Ten Me mengalami kenaikan sebesar
37.9%, sedangkan varietas Autumn Sweet hanya
mengalami kenaikan sebesar 18.8 % dibandingkan
dengan yang tanpa disambung. Diameter buah
memperlihatkan trend yang sama dengan berat
buah. Hal tersebut menunjukkan bahwa varietas
Ameria mempunyai persamaan sifat lebih besar
dengan tanaman waluh sebagai batang bawah
sebagai salah satu dari faktor yang mempengaruhi
pembentukan penyambungan. Hartmann dan
Kester (1991) menyatakan bahwa ketidakserasian
antara batang atas dan batang bawah dapat
disebabkan oleh adanya perbedaan genetis,
fisiologis, biokimia dan anatomi yang dapat
mengakibatkan pertumbuhan sambungan yang
abnormal (inkompatibel). Hadiati et al. (1994)
menambahkan bahwa kompatibilitas batang atas
dan batang bawah yang serasi mampu
menghasilkan tanaman yang vigor, sebaliknya
yang kurang serasi mengakibatkan terhambatnya
pertumbuhan dan pembengkakan batang di sekitar
tempat okulasi.
Penyambungan meningkatkan kadar glukosa
sebesar 7.79%. Varietas Ten Me mempunyai rasa
termanis karena mempunyai kadar glukosa terbesar
. Hasil pengamatan secara visual (deskripsi)
pada bentuk buah, warna daging buah dan tekstur
kulit buah menunjukkan tidak terdapat perbedaan
antara tanaman melon yang disambung dengan yang
tidak disambung.



Penyambungan menyebabkan tertundanya
saat pecah tunas dan saat berbunga, meningkatkan
jumlah daun dan panjang tanaman. Berat buah dan
diameter buah meningkat dengan penyambungan
melon dengan waluh sebagai batang bawah.
Varietas Ameria sangat respons terhadap
penyambungan, sedangkan Autumn Sweet memiliki
respons terkecil pada penyambungan.
Penyambungan meningkatkan kadar glukosa
sebesar 7.79%, sedangkan pengamatan secara visual
(deskripsi) pada bentuk buah, warna daging buah
dan tekstur kulit buah tidak terdapat perbedaan.

GRAFTING UNTUK SEMANGKA 2

/ Category:



WESLACO - Vine penurunan telah berdampak tanaman melon Texas Selatan selama bertahun-tahun. Serangan penyakit ini di akhir musim tanam, pada saat kebanyakan petani memikirkan panen. Tapi sama seperti semangka mulai matang, tanaman dan keuntungan layu dan mati.

Juga dikenal sebagai tiba-tiba layu, penyakit ini disebabkan oleh jamur yang bertalian tanah disebut Monosporascus cannonballus. Ini kerusakan sistem akar, sehingga mereka tidak dapat pasokan air dan nutrisi melon perlu mengembangkan dan bertahan. Honeydew tanaman juga dapat dipengaruhi.

Melon lain tumbuh daerah daerah, termasuk Israel, juga menderita penyakit yang sama. Sampai sekarang, para petani di sini telah memiliki beberapa keberhasilan dengan mengasapi tanah dengan metil-bromida. Tapi ini bahan kimia tidak ramah lingkungan dan akan segera dilarang digunakan di seluruh dunia.

Upaya untuk berkembang biak melon varietas tahan dan mencari alternatif fumigants sedang berlangsung, namun solusi tersebut akan memakan waktu.

Dua orang Texas Agricultural Experiment Station ilmuwan di Weslaco, Dr. John Jifon, sayuran stres fisiologis, dan Dr Kevin Crosby, seorang peternak sayuran, berpikir mencangkok dapat memberikan metode alternatif pengelolaan penyakit.

Oleh mekanis mencangkok varietas melon komersial (keturunan) ke yang lebih kuat dan tahan sistem akar dari labu hibrida, kedua ilmuwan berharap untuk mengembangkan tanaman yang akan tahan terhadap infeksi akar dan kekeringan berikutnya stres.

"Beberapa rootstocks ini mampu dengan cepat regenerasi akar untuk menggantikan mereka yang rusak oleh jamur," Jifon berkata, "dan kami pikir ini adalah mekanisme yang dapat membantu bertahan hidup varietas komersial rentan infeksi."

Setelah bibit germinating mereka dalam flat di rumah kaca, rootstocks mencangkok Jifon mulai dari melon squashes dan alami dalam program penangkaran Crosby dengan Primo, yang paling banyak digunakan berbagai blewah komersial di Texas Selatan.

"Kami akan memungkinkan tanaman untuk menyembuhkan dicangkokkan selama dua atau tiga minggu dalam suhu dan kelembaban ruang pertumbuhan yang dikendalikan," kata Jifon. "Kemudian beberapa benih akan dipindahkan ke lapangan plot untuk evaluasi sementara yang lain akan diinokulasi dengan jamur dalam rumah kaca untuk fisiologis rinci penilaian."

Mencangkok melon ke rootstocks berbeda bukanlah suatu pendekatan baru, kata Crosby. Praktek ini sering digunakan di Jepang, Korea, dan wilayah Mediterania.

"Orang-orang Israel juga memiliki beberapa keberuntungan dengan mencangkok melon," katanya, "tapi mereka tumbuh varietas yang berbeda daripada kita, jadi kita perlu untuk menguji komersial kami melon varietas dengan berbagai rootstocks untuk melihat yang berperforma terbaik."

Jifon eksperimen di Texas A & M University System Agricultural Research and Extension Center di Weslaco merupakan bagian dari upaya kolaboratif yang didanai melalui Departemen Pertanian Texas's Texas-Israel Dewan Dana Exchange bekerjasama dengan Binational Penelitian dan Pengembangan Pertanian Fund (Bard).

Selain Jifon dan Crosby, Dr Daniel Leskovar, fisiologi tanaman dengan Stasiun Percobaan Uvalde, dan sekelompok ilmuwan di Israel juga bekerja pada proyek ..
Jika tes Jifon yang sukses, mencangkok ribuan tanaman melon produksi komersial akan menjadi membosankan dan mahal proposisi, katanya. Tetapi petani akan melihat manfaat lain.

"Ini akan mengurangi jumlah fungisida seorang penumbuh harus membeli dan menggunakan," kata Jifon. "Ini cara yang lebih ramah lingkungan untuk tumbuh melon dan itu akan menawarkan sebuah solusi hingga varietas tahan dapat dikembangkan, yang bisa memakan waktu bertahun-tahun."




sumber: http://agnewsarchive.tamu.edu/dailynews/stories/HORT/Jul0705b.htm

GRAFTING UNTUK SEMANGKA

/ Category:

BANYAK JALAN MENUJU ROMA. Banyak cara untuk menghemat biaya dengan dalih untuk mencapai hasil yang maksimal. Demikian juga untuk budidaya semangga, baik non biji maupun berbiji.

Berikut teknik untuk budidaya semangka dengan cara GRAFTING atau sambung.

A. Menyambung.

Bibit batang bawah harus memiliki setidaknya satu daun sejati dan keturunan bibit harus memiliki satu atau dua daun sejati (Gambar 1a).


Dengan satu potong, menghilangkan satu kotiledon dengan titik tumbuh melekat (Gambar 1b). Hal ini penting untuk membuang titik tumbuh dan kotiledon bersama, sehingga bibit batang bawah tumbuh tunas baru setelah sambung. Ini adalah salah satu keuntungan menggunakan sistem sambung.



Potong keturunan dan dipotong sesuai dengan dua permukaan, batang bawah dan keturunan (Gambar 1c). Tahan di tempat dengan klip mencangkok (Gambar 1d dan 1e). Tempat pembibitan yang dicangkokkan dalam ruangan dengan kelembaban yang tinggi sekitar 77 ° F dan membuang bagian yang tidak terpakai.





Keuntungan:

1) Simple teknik, hampir semua orang bisa melakukan.
2) Satu-satunya tugas setelah mencangkok adalah untuk menghapus klip - tidak pemangkasan bagian tanaman yang tidak diinginkan setelah penyembuhan.

Kekurangan:

Memerlukan kontrol hati-hati kelembaban, cahaya, dan suhu setelah okulasi. Dapat mengalami kegagalan tinggi karena buruknya pengendalian lingkungan dan penyakit yang mungkin di bawah kondisi kelembaban yang tinggi.

B. Side Graft

Bibit batang bawah harus memiliki setidaknya satu daun sejati dan keturunan bibit harus memiliki satu atau dua daun sejati (Gambar 2a).



Dengan pisau tajam atau silet, memotong celah sepanjang jalan melalui batang dari batang bawah (Gambar 2b).




Potong keturunan dan masukkan ke dalam celah dari batang bawah (Gambar 2c). Tahan di tempat dengan klip mencangkok (Gambar 2d). Tempat pembibitan yang dicangkokkan dalam ruangan dengan kelembaban yang tinggi sekitar 77 ° F dan membuang bagian yang tidak terpakai.




Keuntungan:

Simple teknik.

Kekurangan:

1) Memerlukan kontrol hati-hati kelembaban, cahaya, dan suhu setelah okulasi. Dapat mengalami kehilangan tinggi karena buruknya pengendalian lingkungan dan penyakit yang mungkin di bawah kondisi kelembaban yang tinggi.

2) Setelah penyembuhan graft serikat, memerlukan penghapusan bagian atas dari batang bawah. Ini memerlukan waktu dan tenaga kerja tambahan namun memungkinkan keturunan sendiri untuk membentuk kanopi tanaman.


C. Pendekatan Graft

Dan keturunan bibit batang bawah harus memiliki satu atau dua daun sejati (Gambar 3a).



Dengan pisau tajam atau silet, memotong sebuah celah miring setengah jalan melalui batang dari batang bawah dan miring malah celah setengah jalan melalui batang keturunan (Gambar 3b). Sesuai dengan celah sehingga mereka tumpang tindih dan kemudian lapisi dengan aluminium foil atau bahan khusus yang tersedia untuk tujuan ini (Gambar 3c dan 3d).





Tempatkan benih dalam nampan dengan ukuran lebih besar dari benih. Tempatkan hasil penyambungan dengan kelembapan seperti didalam rumah kaca.

Keuntungan:
1) Relatif teknik sederhana.
2) kelembaban tinggi dan lingkungan cahaya rendah tidak diperlukan untuk sukses penyembuhan ini. Lingkungan rumah kaca normal sudah cukup.

Kekurangan:

1) Setelah penyembuhan graft , menuntut penghapusan bagian atas dari batang bawah sekitar sembilan hari setelah melakukan oprasi. Juga mengharuskan pemutusan akar keturunan setelah tambahan dua atau tiga hari. (dan kemudian akan ditanam ke lapangan dalam waktu sekitar tiga hari lagi.)


D. Hole Insertion Graft

Bibit batang bawah harus memiliki satu kecil daun sejati dan keturunan bibit harus memiliki satu atau dua daun sejati (Gambar 4a).



Dengan menunjuk probe, keluarkan dari batang bawah daun sejati tumbuh bersama dengan titik (Gambar 4b). Hal ini penting untuk menghapus semua titik pertumbuhan masa depan untuk mencegah pertumbuhan tunas batang bawah. Ini adalah salah satu keuntungan dari sistem ini.



Gunakan probe untuk membuka celah di sepanjang satu sisi pada bagian atas dari batang bawah di batang, dimana batang menghubungkan ke cotyledons. Potong keturunan dan masukkan ke dalam batang bawah (Gambar 4c). Tahan di tempat dengan klip mencangkok (Gambar 4d). Tempat pembibitan yang dicangkokkan dalam ruangan dengan kelembaban yang tinggi sekitar 77 ° F dan membuang bagian yang tidak terpakai.




Keuntungan:

1) Satu-satunya tugas setelah mencangkok adalah untuk menghapus klip - tidak pemangkasan bagian tanaman yang tidak diinginkan setelah penyembuhan dari operasi

Kekurangan:

1) Memerlukan sedikit lebih keterampilan daripada kebanyakan teknik mencangkok lain.
2) Memerlukan kontrol hati-hati kelembaban, cahaya, dan suhu setelah okulasi. Dapat mengalami kehilangan tinggi karena buruknya pengendalian lingkungan dan penyakit yang mungkin di bawah kondisi kelembaban yang tinggi.

suber translate dari: http://www.hos.ufl.edu/vegetarian/06/Jan%2006/watermelon%20grafting.htm