Cari Blog Ini

DESKRIPSI PENYAKIT PADA CABE

/ Category:

Sifat-sifat Bakteri Patogen

/ Category:



Penyebaran Bakteri Patogen

R. solanacearum merupakan patogen tular
tanah dan dapat menyebar dengan mudah
melalui bahan tanaman, alat pertanian, dan
tanaman inang (Sitepu dan Mogi 1996).
Kemampuan bakteri tanah bertahan hidup
diduga sangat bergantung pada keberadaan
tanaman inang. Supriadi et al. (1995)
menemukan berbagai tanaman inang R.
solanacearum dari berbagai lokasi di
Indonesia. Isolat-isolat yang diperoleh dari
tanaman inang tersebut bervariasi dalam
hal biovar dan patogenisitasnya. Strain
patogen yang spesifik pada tanaman
inang terdapat pada lahan tertentu. Hal
tersebut berkaitan dengan faktor lingkungan,
baik faktor abiotik seperti suhu,
tipe tanah, dan curah hujan maupun faktor
biotik, sebagai contoh keberadaan nematoda
dapat memperparah serangan
penyakit layu bakteri pada beberapa jenis
tanaman (Hayward 1994) termasuk nilam,
karena nilam merupakan salah satu
tanaman inang bagi nematoda (Mustika
dan Nuryani 1993; Mustika 1996).
Pada medium Yeast Peptone Agar (YPA),
bakteri patogen berbentuk koloni tidak teratur,
berwarna putih dan fluidal yang merupakan
ciri khas koloni R. solanacearum
(Sitepu dan Asman 1989; Radhakrishan et
al. 1997; Supriadi et al. 2000; Nasrun 2005).
Bakteri patogen mempunyai daya virulensi
yang berbeda-beda dengan masa inkubasi
14,60−39,30 hari setelah inokulasi (Nasrun
2005).
Bakteri R. solanacearum mempunyai
reaksi negatif terhadap hidrolisis pati,
gelatin, arginin dan produksi levan, dan
bereaksi positif terhadap uji katalase, oksidase,
akumulasi PHB, dan denitrifikasi.
Isolat bakteri patogen dapat tumbuh pada
NaCl 0−2% dengan pH 4−8,50 dan suhu
13−37oC, tetapi tidak dapat tumbuh pada
suhu 41oC. Jika bakteri ditumbuhkan pada
medium YPA ditambah tetrazolium salt
dan diinkubasi selama 24 jam maka akan
terlihat koloni berwarna putih, fluidal
dengan pusat koloni berwarna merah
jambu (Nasrun 2005). Tipe koloni ini merupakan
koloni R. solanacearum virulen
(Hayward 1994). Dari pengecatan negatif
dan setelah diuji dengan HCl terlihat
bakteri berbentuk batang dan bersifat gram
negatif. Berdasarkan karakterisasi bakteri
patogen dengan berpedoman pada sifat-sifat bakteri dan bentuk koloni bakteri
dengan mengacu pada metode Hayward
(1976) dan Denny dan Hayward (2001),
diketahui bahwa bakteri patogen penyebab
penyakit layu bakteri pada nilam
adalah R. solanacearum.
R. solanacearum dapat menggunakan
sumber karbon dari dektrosa, manitol,
sorbitol, dulsitol, trehalosa, laktosa, maltosa
dan selobiosa, yang berarti bakteri ini termasuk
biovar III (Hayward 1964; Denny
dan Hayward 2001). Hasil uji patogenisitas
pada berbagai jenis tanaman menunjukkan
bahwa isolat R. solanacearum dapat
menginfeksi tomat, cabai, terung, dan
tembakau dengan memperlihatkan gejala
layu. Sebaliknya R. solanacearum tidak
menginfeksi kacang tanah lokal, jahe,
pisang emas, pisang cavendish, dan
heliconia (Nasrun 2005). Hasil uji kisaran
inang ini menunjukkan bahwa R. solanacearum
dapat menyerang tanaman
kelompok Solanaceae, dan bakteri ini termasuk
ke dalam ras 1 (Buddenhagen et al.
1962 dalam Hayward 1964).

MIKROBA PENGENDALI PENYAKIT TANAMAN CABE

/ Category:

PENYAKIT TANAMAN

/ Category:

LAYU BAKTERI PADA CABE

/ Category:


Tanaman cabe dan tomat merupakan dua tanaman yang mempunyai nilai ekonomis tinggi serta perlu modal dan keahlian yang cukup apabila ingin membudidayakannya. Hambatan utama yang sering ditemui prtani dalam membudidayakan tanaman cabe dan tomat adalah serangan penyakit layu bakteri. Di Indonesia laporan tentang adanya penyakit ini sebenarnya sudah ada sejak lama yaitu pada tahun 1921/1922 di daerah Madiun dan kediri Jawatimur (Van. Hall,1922,1923).Intensitas serangan penyakit ini bervariasi di tiap daerah. Di Jawa Timur dan Jawa Tengah intensitas serangan mencapai 6 % sedang di Lampung dan Jawa Barat intensitas serangannya dapat mencapai 27 % dan hampir 90 % tanaman cabe yang di tanam di dataran rendah terserang penyakit ini. (Suhardi.1988). Patogen penyakit layu bakteri ini adalah Pseudomonas solana cearum ( E.F.Sm.) E.F.Sm.yang juga dikenal dengan nama Xanthomonas solanacearum (E.F.Sm)Dowson, Bakterium solanacearum (E.F.Sm.)E.F.Sm,dan Phytomonas solana cearum (E.F.Sm.)Bergey et al. Bakteri berbentuk batang dengan ukuran 0,5 X 1,5 mikron, tidak berspora, tidak berkapsula, bergerak dengan satu bulu cambuk (Flagellum) poler, aerob, Gram negatif.Koloni diatas medium agar-agar keruh, berwarna kecoklatan, kecil, tidak teratur, halus, mengkilat, kebasah basahan. Bakteri ini diketahui mempunyai banyak ras yang berbeda virulensinya .Disimpulkan bahwa yang terdapat di Indonesia adalah ras 1 dan ras 3. Ras 1 diisolasi dari tomat, kentang, tembakau ,kacang tanah, terung, dan beberapa spesies gulma umum yang terdapat di dataran rendah tropika.Ras 3 khusus menyerang tanaman kentang yang umum terdapat di dataran tinggi tropika (Hutagalung,1984).

 
DAUR PENYAKIT.

     Bakteri penyakit layu ini mempunyai banyak tumbuhan inang, antara lain tomat, cabe, terung, tembakau , kacang tanah dan jenis tanaman terung terungan (Solanaceae). Bakteri ini dapat terangkut oleh air , melalui tanah dan alat-alat pertanian yang digunakan serta bibit yang di gunakan bila mengandung penyakit dapat juga menular kannya. Bakteri ini dapat menginfeksi bagian-bagian tanaman yang utuh yang berada dalam tanah dan proses infeksinya akan lebih cepat terutama pada bagian-bagian tanaman yang terluka.


GEJALA - GEJALA SERANGAN PENYAKIT
     Gejala serangan penyakit layu bakteri ditandai dengan adanya daun yang layu dimulai dengan daun yang muda atau pucuk kemudian berlanjut pada seluruh bagian tanaman. Serangan ini biasanya mulai nampak pada waktu tanaman umur 6 minggu. Jika tanaman di cabut kemudian batangnya dipotong akan terlihat berkas pembuluh berwarna coklat dan apa bila ditekan dari lingkaran berkas pembuluh akan keluar massa bakteri yang berwarna ke abu-abuan . Massa bakteri akan terlihat lebih jelas lagi apabila potongan batang tersebut dimasukan dalam air jernih dimana setelah batang tersebut dimasukkan beberapa menit kemudian akan terlihat benang-benang putih halus yang keluar dan bila digoyangkan benang tersebut akan putus. Benang-benang putih tersebut merupakan massa bakteri.



USAHA PENGENDALIANNYA
     Seperti kita diketahui bersama bahwa penyakit layu Bakteri ini merupakan penghuni tanah tetap (Soil inhabitat ) atau lingkungan air tawar dan air laut. Bakteri ini akan menginfeksi bagian tanaman yang utuh terlebih pada bagian yang luka akibat serangan nematoda. Seperti kita ketahui bersama, nematoda dapat berinteraksi sinergistik dengan bakteri Pseudomonas ssolanacearum dalam menyerang tanaman. Mencermati keadaan tersebut diatas maka usaha pengendalianya dapat dilakukan dengan beberapa upaya di antaranya:

1. ROTASI TANAMAN
     Dengan melakukan rotasi tanaman atau pergiliran tanaman yang tepat akan sangat membantu dalam usaha penanggulangan penyakit layu bakteri. Yang penting untuk diperhatikan adalah menghindari penaman tanaman yang merupakan inang alternatif bakteri dan membersihkan gulma disekitar tanaman terutama gulma-gulma yang merupakan inang alternatif bakteri.

2. MEMBUAT DRAINASE
     Membuat drainase yang baik terutama untuk tanah-tanah yang memiliki kondisi basah, yaitu dengan jalan dibuatkan saluran pengeluaran dan pemasukan air,sehingga pada saat berlebihan air dapat dibuang melalui saluran pembuangan dan sebaliknya pada saat tanaman membutuhkan air dapat dimasukan kedalam saluran pemasukan. Drainase yang baik dapat mengurangi intensitas serangan penyakit layu bakteri, sebab lingkungan tanaman akan dapat dikontrol kelembabannya.

 
3. MENANAM BENIH YANG SEHAT DAN TAHAN
     Dengan menanam benih yang sehat dan tahan terhadap penyakit layu tanaman akan terhindar dari penyakit tersebut. Tetapi yang menjadi masalah adalah, bahwa benih- benih yang tahan terhadap serangan penyakit layu saat ini ketersediaanya belum memadai dan di samping itu kalaupun ada jumlahnya masih sangat terbatas.

4. PENGGUNAAN BAKTERISIDA
     Pengendalian dengan menggunakan bakterisida saat ini banyak digunakan oleh petani, karena dirasakan paling efektif dan mudah.Penggunaan bakterisida yang berbahan AKTIF oxytetracycline dan streptomycin sulfate Penggunaanya biasanya dengan cara mencelupkan bagian akar sebelum ditanam kedalam larutan oxytetracycline dan streptomycin sulfate serta mengocor pangkal batang tanaman setelah tanaman di tanam dengan menggunakan larutan tersebut. atau yang berbahan aktif TEMBAGA HIDROKSIDA konsensentrasi 5 gram per liter dengan ukuran 200 ml per tanaman.

Anthracnose PADA CABE

/ Category:

Colletotrichum capsici

Gejala pertama biasanya muncul pada buah yang telah matang, dengan luka kecil yang basah dan cekung. Luka membesar dengan sangat cepat dan jamur membentuk karateristik gejala berupa lingkaran spora berwarna gelap yang banyak terdapat pada luka. Infeksi berat menyebabkan buah menjadi kering dan mengerut. Anthracnose mungkin menginfeksi saat di lapangan atau terjadi pembusukan setelah dipanen.

 
rekomendasi:  
gunakan fungi berbahan aktif : Propineb , Copper oxychloride, Tebuconazole , TEMBAGA HIDROKSIDA , mancozeb, benomyl.

Perawatan di lingkungan sekitar tanaman mutlak dilakukan, terutama wiwil, penyiangan gulma dan pengaliran air yang tergenang. Semua faktor tersebut di atas merupakan bagian dari tindakan pencegahan, yang ditujukan agar lingkungan sekitar tanaman tidak lembab, mengingat Pethek (Antracnose) disebabkan oleh jamur yang perkembangannya sangat didukung oleh lingkungan yang lembab. Apabila tanaman sudah terserang dapat ditanggulangi dengan disemprot Fungisida sistemik dan kontak secara bergantian.



Pemupukan  :  Tanaman hampir layaknya manusia, untuk berproduksi secara maksimal membutuhkan makanan dalam jumlah dan keanekaragaman yang cukup. Pada musim penghujan pupuk makro yang diberikan sebagai pupuk dasar, meliputi : Urea, SP - 36, KCl dengan perbandingan 1 : 2 : 1,5 atau 300 Kg Urea, 600 Kg SP-36 dan 475 Kg KCl dalam luasan satu hektar. Untuk menjaga keasaman tanah diberikan Dolomit 4 - 5 Ton/Ha. Sedangkan untuk mendapatkan tanah yang gembur, tambahkan bahan organik pada saat tanah diolah, yaitu dengan mencampur pupuk kandang matang 15 - 20 ton/hektar. Apabila pupuk kandang dirasa mengkhawatirkan (belum matang) sebaiknya digunakan pupuk dari kotoran ayam, karena pupuk dari kotoran ayam proses penguraiannya tidak membahayakan tanaman. Kemudian tanaman diberikan pupuk susulan interval 5 hari sekali dengan dikocor pupuk NPK .

            Apabila terjadi buah pecah, kerontokan buah dan bakal buah dapat diatasi dengan  :
* Memberikan Dolomit pada pangkal batang atau permukaan tanah sepanjang kanan kiri bedengan serta selokan.
*  Kocor dengan fungisida sistemik .
*  Hindari genangan air pada selokan dan perdalam selokan.
*  Kocorkan NPK interval 1 minggu sekali dengan diselingi penyemprotan Fitomic hingga tanaman normal kembali .
Perawatan di atas mutlak dilakukan mengingat apabila tanaman itu sehat karena makanannya cukup dan lingkungannya mendukung, kekebalan terhadap hama dan penyakit jadi bertambah.



FUNGISIDA dan bahan aktif

/ Category:

* AGRICURA SPECIAL FUNGICIDE ® - 50 % benomyl W.P.
A systemic fungicide for control of powdery mildew on grapes, peas, strawberries, cucurbits and all deciduous fruit, Botrytis on grapes and strawberries, Ascochyta and Mycosphaerella on peas and leaf spot on celery. See Benlate Fungicide.

* AGRIDUST ® - 5% malathion + 6,5% copper oxychloride + 65% dusting sulphur
An insecticide and two fungicides blended into a dust for control of certain insect pests and powdery mildew on vegetables and ornamentals in the home garden. See under insecticides/acaricides. Also see Vegidust

ALIETTE ® WP - 80% fosetyl-Al
A systemic fungicide for control of Phytophthora root rot on avocados, and Phytophthora root rot and collar rot on citrus.
APRON ® 35 SD - 35% metalaxyl
A systemic seed dressing for control of downy mildew on seed sunflower
Ascochyta and Mycosphaerella on peas; and loose smut on wheat. See Agricura Special Fungicide. BAYCOR ® 300 EC - 30 % bitertanol
A systemic fungicide for control of Cercospora leaf spot and Phoma leaf blotch on groundnuts, rust and powdery mildew on roses and rust on carnations
BAYFIDAN ® 1 % G - 1 % triadimenol
A granular systemic fungicide for leaf rust control on coffee.
BAYFIDAN ® 250 EC - 25 % triadimenol
A systemic fungicide with curative properties for the control of leaf rust on coffee and smut on sugarcane.
BAYTAN ® 15 % WP - 15 % triadimenol
A seedbed applied systemic fungicide for control of soreshin on tobacco seedlings and as a seed dressing for smut and bunt control on wheat and barley.
BENLATE ® FUNGICIDE - 50 % benomyl W.P.
A systemic fungicide for control of powdery mildew on apples, pears, cucurbits, grapes, apricots, peaches, plums, peas and strawberrries Botrytis on grapes and strawberries; brown rot on peaches and plums; scab and sooty blotch on apples and pears; black spot on citrus; leaf spot on celery; grey leaf spot on maize; Botrytis stem rot and Cercospora leaf spot on groundnuts; frogeye on soyabeans and tobacco; pineapple disease on sugarcane; fruit rot in bananas; Fusarium on coffee
BRASSICOL ® 75 WP - 75% quintozene
A seed dressing or soil treatment contact fungicide for control of Rhizoctonia on beans, cotton, ornamentals, vegetables, carnations, gladioli, peppers, tomatoes and potatoes; Sclerotinia on beans and gladiolus; Sclerotium on groundnuts, onions, soyabeans, peppers and tomatoes; smut on wheat, barley, oats and sorghum; scab on potatoes and Aspergillus on groundnuts.
BRAVO ® 500 SC - 50% chlorothalonil
A broad spectrum contact fungicide for the preventative control of leaf spot diseases and web blotch on groundnuts; early and late blight on potatoes and tomatoes; downy mildew and anthracnose on cucurbits; fungal diseases on lawns and turf; Alternaria on apples and in tobacco seedbeds; and Anthracnose on pyrethrum.
CAPTAN 50% WP - 50 % captan
A contact fungicide for control of scab on apples and pears; freckle, gum spot and green rot on apricots; brown rot on peaches and plums; leaf spot on celery; seed-borne diseases on groundnuts, maize and soyabeans; leaf spot diseases on lawns; leaf spot on potatoes and tomatoes; Anthracnose on pyrethrum; black spot on roses; Botrytis and leaf spot on strawberries; and Anthracnose on grapes. Also used as a drench treatment of potting soil and seedbeds for control of soil-borne fungi causing damping off

COPPER OXYCHLORIDE 60 FW - 60 % copper oxychloride (36 % Cu)
A contact fungicide for control of wildfire and angular leafspot in tobacco seedbeds; early blight on tomatoes and leaf rust on coffee.
* COPPER OXYCHLORIDE 85 WP - 85 % copper oxychloride (50 % Cu).
A contact fungicide for control of a wide range of diseases on many crops including scab on apples, pears and pecan nuts; rust, Cercospora and Fusarium on coffee; early and late blight on potatoes and tomatoes; wildfire and angular leaf spot on tobacco; black spot on citrus, mangoes and roses; leaf spot on ornamentals, celery, granadillas and strawberries; rust on ornamentals; Anthracnose and downy mildew on grapes; bacterial spot on apricots, peaches and plums; bacterial blight on beans; downy mildew on brassicas and cucurbits; and slime mould on lawns.

* COSAN ® WETTABLE SULPHUR - 80 % sulphur
A micronised formulation of wettable sulphur for control of powdery mildew on grapes, apples, peaches, plums, nectarines, tomatoes, cucurbits, vegetables, peas, ornamentals and mangoes. Also controls grey mite on citrus and tomato mite on tomatoes. See under insecticides/acaricides
DICLORAN 50 WP - 50 % dicloran
A contact fungicide for control of fungal barn rot on tobacco; brown rot on peaches; dry rot on gladioli; Botrytis on lettuce, strawberries and tomatoes; stem canker on tomatoes and white rot on garlic and onions.
* DITHANE M45 ® W.P. - 80 % mancozeb
A contact fungicide for control of early and late blight on potatoes and tomatoes; Anthracnose and Alternaria on tobacco seedbeds; Anthracnose, black spot, downy mildew and rust on roses; Anthracnose, rust and scab on beans; leaf blight on carrots; Anthracnose and downy mildew on cucurbits; Alternaria on leeks and onions and downy mildew on brassicas, grapes, onions and peas.
* DUSTING SULPHUR - 98 % sulphur
A dust formulation of sulphur for control of red spider mite on beans, brassicas, cucurbits, carrots, peas and tomatoes; powdery mildew on ornamentals, peaches and grapes; thrips on celery, cucurbits, lettuce, onions and turnips and russet mite on tomatoes. See under insecticides/acaricides.
FOLICUR ® 25 WP - 25 % tebuconazole
A systemic fungicide for control of Alternaria on apples.
FOLICUR ® 250 EC - 25 % tebuconazole
A systemic fungicide for control of Cercospora leaf spot and grey mould on groundnuts; net blotch on barley; Alternaria in tobacco lands and rust on coffee and beans.
FUNGAZIL ® 75 SP - 75 % imazalil
A contact fungicide used as a dip or brush on treatment for control of post harvest diseases of citrus.

* FUNGINEX ® EC - 19 % triforine
A systemic fungicide for control of black spot and powdery mildew on roses; powdery mildew on cucurbits, apples and ornamentals; scab on apples and rust on carnations.
* LIME SULPHUR – 24,8 % polysulphides
A contact poison with residual action used as a dormant spray against mites, scale and over-wintering disease spores on deciduous fruit, vines and ornamentals. See under Insecticides/Acaricides.
MANCOZEB 80 WP - 80% mancozeb
See Dithane M45 fungicide
MELTATOX ® EC - 42% dodemorph acetate
A systemic fungicide for control of powdery mildew on roses and other ornamental plants.
MIKAL ® – M WP - 44% fosetyl-Al + 26% mancozeb
A combination of a systemic and a contact fungicide for control of downy mildew on vines.
MILRAZ ® 76%WP - 70% propineb + 6% cymoxanil
A combination of a contact and a translaminar fungicide for control of late blight on potatoes and tomatoes.
NIMROD ® - 25% bupirimate
A systemic fungicide for control of powdery mildew on roses.
NUSTAR ® 250 EW - 25 % flusilazole
A systemic fungicide for control of powdery mildew on apples and mangoes; frogeye on soyabeans and grey leaf spot on maize.
PREVICUR N ® SC - 72 % propamocarb - HCl
A systemic fungicide for the prevention of damping-off diseases of ornamentals and avocados in nurseries.

PUNCH XTRA ® SC – 12,5 % flusilazole + 25% carbendazim
A combination of two systemic fungicides from the benzimidazole and triazole groups for the control of grey leaf spot on maize and frogeye on soyabeans.
REPULSE ® 5.75 % G - 5 % disulfoton + 0.75 % triadimenol
A systemic insecticide + fungicide granular formulation for control of leaf miner and leaf rust on coffee. See under Insecticides/Acaricides.
RIDOMIL ® 5 G - 5 % metalaxyl
A granular systemic formulation for control of Phytophthora on citrus
RIDOMIL ® MZ 72WP - 8 % metalaxyl + 64 % mancozeb
A systemic and contact fungicide combination for the curative control of downy mildew on grapes, brassicas, cucurbits, spinach and onion and late blight on potatoes and tomatoes.
RIZOLEX ® 50 WP - 50 % tolclofos-methyl
A contact fungicide for the control of Rhizoctonia on cotton
ROVRAL ® 250 SC - 25 % iprodione
A contact suspension concentrate fungicide for Alternaria control in tobacco lands.
RUBIGAN ® EC – 12,5% fenarimol
A systemic fungicide for control of scab on apples.
SCORE ® 250 EC - 25 % difenoconazole
A systemic fungicide for the control of Alternaria on apples and Cercospora on groundnuts
SPORGON ® 50 WP - 50 % prochloraz manganese chloride complex
A contact fungicide for the control of powdery mildew on roses
SUMISCLEX ® 50 WP - 50 % procymidone
A translaminar fungicide for control of Botrytis on grapes and early blight on tomatoes.
TECTO ® FLOWABLE FUNGICIDE - 45.1 % thiabendazole
A systemic fungicide for control of storage moulds on apples, pears, avocados, bananas, citrus and musk melons; Rhizoctonia and Fusarium on cotton and potatoes; and leaf spot on lawns. Also used for disinfection of empty cold stores.
* THIRAM 80 WP - 80 % thiram
A contact fungicide for control of scab on apples; Anthracnose, scab and rust on beans; leaf curl on peaches and nectarines; Anthracnose on grapes and in tobacco seedbeds. Also used on all crops as a soil drench or seed treatment to control soil borne fungi causing the damping off of germinating seedlings
TILT ® 250 EC - 25 % propiconazole
A systemic fungicide with high vapour action for control of leaf rust on coffee; leaf spot diseases on wheat and barley and smut on sugar cane.
TOPAS ® 100 EC - 10 % penconazole
A systemic fungicide for control of powdery mildew on cucurbits and apples.
TOPSIN-M ® 50% SC– 50% thiophanate-methyl
A systemic fungicide for control of powdery mildew and scab on apples and pears; black spot on citrus and black spot and powdery mildew on roses.
TRICHODERMA T77 ® - Trichoderma harzianum T77
A cultured fungus for control of soreshin on tobacco. Applied to the seedbeds before sowing seed.
TRICHODERMA TM4 ® - Trichoderma harzianum TM4
A cultured fungus for control of soil-borne diseases on paprika. Applied to the seedbeds before sowing seed.
* VEGIDUST ® - 5 % malathion + 6,5 % copper oxychloride + 65 % dusting sulphur
An insecticide and two fungicides blended into a dust for control of certain insect pests and powdery mildew on vegetables and ornamentals in the home garden. See under insecticides/acaricides. Also see Agridust

Musuh-musuh Utama pada Tanaman Cabe

/ Category:

Hambatan paling besar bertanam cabe biasanya datang dari keberadaan hama dan penyakit seringkali yang membuat tanaman rusak pada bagian tertentu yang bisa menyebabkan puso. Cukup banyak jenis-jenis hama maupun penyakit yang menyerang tanaman cabe ini dari fase benih sampai panen. Namun hanya beberapa yang utama dan paling merusak. Berikut adalah pembahasan mengenai hama dan penyakit utama pada tanaman cabe. Sebagai tanaman budidaya, tentu saja pengembangan tanaman cabe tidak bisa terlepas dari pengendalian hama dan penyakit. Meskipun komoditas ini sangat menjanjikan, namun tidak sedikit dari para petani kita yang mengeluh akibat kehadiran pengganggu keberhasilan budidayanya. Tidak hanya hama, bahkan penyakit pun kerap menjadi penyebab utama kerusakan cabe. Kerugian yang diakibatkan hama maupun penyakit telah membuat tidak sedikit para petani yang bangkrut dan kapok untuk bertanam lagi. Sebagai pertimbangan, pada Harian Kompas mengungkapkan daerah Kediri sebagai salah satu sentra produksi cabe di Jatim banyak yang terserang Antracnose atau yang lebih populer dengan pathek ini beberapa waktu yang lalu. Dimana, ribuan hektar pohon cabe gagal dipanen gara-gara kehadiran penyakit itu. Ini hanya satu kasus saja, belum serangan hama maupun penyakit lain yang bisa merugikan petani. Menurut sebagian petani hingga kini belum ada cara yang benar-benar ampuh untuk mengobati buah cabe yang sudah terserang hama dan penyakit. Bukannya mereka tidak mau tahu atau pasrah terhadap kehadiran “para pengganggu” ini, namun sudah banyak yang dilakukan dalam upaya mengobati tanaman yang sudah terkena serangan. Salah satunya adalah dengan penyemprotan baik itu menggunakan insektisida maupun fungisida. Karena saking tingginya kekhawatiran akan meluas atau terkena serangan, penyemprotan seringkali dilakukan secara serampangan tanpa pertimbangan. Akibatnya kesalahan pemilihan pestisida yang diberikan dan teknik pengendalian yang kurang baik bisa menjadi bumerang yang berakibat fatal. Untuk itulah, teknik pengendalian yang baik yang dikenal dengan tehnik pengendalian hama terpadu sangat dianjurkan untuk mengatasi musuh-musuh utama tanaman cabe ini. Berikut adalah musuh-musuh utama petani cabe yang sering menyerang tanaman cabe. Thrips Hama thrips (Thrips Sp.) sudah tidak asing lagi bagi para petani cabe. Menurut beberapa sumber, thrips yang menyerang cabe tergolong sebagai pemangsa segala jenis tanaman, jadi serangan pada tanaman cabe hanya salah satunya saja. Dengan panjang tubuh sekitar + 1 mm, serangga ini tergolong sangat kecil namun masih bisa dilihat dengan mata telanjang. Thrips biasanya menyerang bagian daun muda dan bunga. Serangan paling parah biasanya terjadi pada musim kemarau, namun tidak menutup kemungkinan pada saat musim hujan bisa juga terjadi serangan. Gejala yang bisa dikenali dari kehadiran hama ini adalah adanya strip-strip pada daun dan berwarna keperakan. Adanya noda keperakan itu tidak lain akibat adanya luka dari cara makan hama thrips. Dalam beberapa waktu kemudian, noda tersebut akan berubah warna menjadi coklat muda. Yang paling membahayakan dari thrips adalah selain dia sebagai hama perusak namun juga sebagai carrier atau pembawa bibit penyakit (berupa virus) yang menyebabkan penyakit pada tanaman cabe. Untuk itu, bila kita mampu mengendalikan hama thrips, tidak hanya memberantas dari serangan hama namun juga bisa mencegah penyebaran penyakit akibat virus yang dibawanya.


Pengendalian hama ini bisa dilakukan secara kultur teknis maupun kimiawi. Secara teknis dapat dilakukan dengan melakukan pergiliran tanaman atau tidak menanam cabe secara bertahap dengan selisih waktu lebih lama, selain itu dapat juga menggunakan perangkap kuning yang dilapisi lem. Sedangkan pengendalian kimia bisa dilakukan dengan penyemprotan insektisida Winder 25WP konsentrasi anjuran 0.25 – 0.5 gr /liter atau bisa juga menggunakan insektisida bentuk cair Winder 100EC dengan konsenstrasi 0.5 – 1 cc/L.
Tungau (Mite)
Hama mite selain menyerang jeruk, dan apel menyerang tanaman cabe juga. Tungau bersifat parasit dimana dia merusak daun, batang maupun buah yang mengakibatkan perubahan warna dan bentuk. Pada tanaman cabe, serangannya adalah dengan menghisap cairan daun sehingga warna daun terutama pada bagioan bawah menjadi berwarna kuning kemerahan , bentuk daun menjadi menggulung ke bawah dan akibatnya pucuk bisa mengering yang akhirnya menyebabkan daun rontok. Dalam klasifikasi tungau termasuk dalam Ordo Acarina, Kelas Arachnidae bukan termasuk golongan serangga. Tungau berukuran sangat kecil dengan panjang badan sekitar 0.5 mm, berkulit lunak dengan kerangka chitin. Seperti halnya thrips, hama ini juga berpotensi sebagai pembawa virus. Pengendalian hama mite secara kimia dapat kita lakukan penyemprotan menggunakan akarisida Samite 135EC. Konsentrasi yang dianjurkan adalah 0.25 – 0.5 ml/L.
Kutu (Myzus persicae)
Aphids merupakan serangga hama yang juga andil dalam merusak perkembangan tanaman cabe. Serangannya hampir sama dengan tungau namun akibat cairan dari daun yang dihisapnya menyebabkan daun melengkung ke atas, keriting dan belang-belang hingga akhirnya dapat menyebabkan kerontokan. Tidak sepeti mite, kutu persik ini memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat karena selain bisa memperbanyak dengan perkawinan biasa, dia juga mampu bertelur tanpa pembuahan. Pengendalian hama aphids secara kimia dapat dilakukan dengan menyemprot insektisida Winder 100EC konsentrasi 0.5 – 1.00 cc/L.
Lalat Buah (Bactrocera dorsalis)
Kehadiran lalat ternyata tidak hanya mengganggu sekaligus menjijikkan namun bisa menjadi hama perusak khususnya tanaman cabe. Buah cabe yang menunggu panen bisa menjadi santapannya dalam sekejap dengan cara menusukkan ovipositornya pada buah serta meletakkan telur, menetas menjadi larva yang kemudian merusak buah cabe dari dalam. Kerusakan buah dari luar bisa kita perhatikan dari bekas tusukan yang berupa bintik hitam. Buah yang rusak tentu saja tidak akan laku dijual sehingga menyebabkan kerugian bagi petani. Pengendalian hama lalat buah cabe tergolong agak sulit karena menyerangnya dari dalam buah, untuk itu satu-satunya jalan adalah dengan mencegah lalat tersebut meletakkan telurnya pada cabe. Pengendalian kultur teknis dapat dilakukan dengan membuat perangkap dari botol bekas air kemasan yang didalamnya diberi umpan yang telah diberi sex feromon seperti metil eugenol dan insektisida. Hal ini karena lalat buah betina sangat tertarik dengan bau lalat buah jantan sehingga dia akan memburunya. Selain itu dapat juga digunakan perangkap kuning seperti yang dilakukan pada hama thrips. Karena umumnya serangga-serangga tersebut sangat menyukai warna-warna mencolok.
Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Hama ini tak berbeda dengan jenis ulat lain yang juga suka makan daun. Namun keistimewaannya adalah saat memasuki stadia larva, dia termasuk hewan yang sangat rakus. Hanya dalam waktu yang tidak lama, daun-daun cabe bisa rusak olehnya. Ulat yang setelah dewasa berubah menjadi sejenis ngengat ini akan memakan daun-daunan pada masa larva untuk menunjang perkembangan metamorfosis-nya. Ulat grayak tidak hanya menyerang tanaman cabe saja melainkan juga tanaman pisang, bawang, pepaya, kentang, padi, kacang dan lain-lain. Pengendalian hama ini dapat dilakukan terhadap ngengat dewasa yang hendak meletakkan telurnya pada tanaman inang dengan menyemprotkan insektisida, atau dikendalikan dengan insektisida biologis Turex WP konsentrasi 1 – 2 gr/Lt.


Gejala akibat serangan hama kutu daun (Mizus persicae)


Kerusakan daun yang diakibatkan serangan mite
 
Ulat grayak merupakan hama yang paling rakus melahat daun cabe.

Tikus
Meskipun tidak separah serangan pada tanaman pangan, tikus juga berpotensi merusak buah tanaman cabe. Mereka biasanya menyerang bagian buahnya. Meskipun persentasenya tergolong sedikit, serangan tikus pada tanaman cabe tetap harus diwasdapai dengan cara selalu rutin membersihkan kebun cabe dari gulma dan semak-semak yang bisa menjadi tempat sarang sekaligus perlindungan tikus.

Antracnose
Tidak ada yang memungkiri bahwa Antracnose atau yang lebih dikenal dengan istilah “pathek” adalah penyakit yang hingga saat ini masih menjadi momok petani cabe. Bagaimana tidak? Buah yang menunggu panen dalam beberapa waktu berubah menjadi busuk oleh penyakit ini. Sudah banyak petani yang menjadi korban keganasannya. Sekali tanaman cabe kita terkena antraknosa, maka akan sulit bagi kita untuk mengendalikannya. Oleh karena itu tindakan paling baik untuk penyakit ini adalah melakukan pencegahan sebelum terjadinya serangan. Gejala awal yang dapat dikenali dari serangan penyakit ini adalah adanya bercak yang agak mengkilap, sedikit terbenam dan berair. Lama – kelamaan busuk tersebut akan melebar membentuk lingkaran konsentris. Dalam waktu yang tidak lama maka buah akan berubah menjadi coklat kehitaman dan membusuk. Ledakan penyakit ini sangat cepat pada musim hujan. Penyebab penyakit ini tidak lain adalah jamur C. capsici. Jamur ini menyerang tidak pandang bulu, karena baik buah cabe yang masih hijau atau sudah masak pun tidak luput darinya. Penyakit ini sangat mudah menyebar ke buah atau tanaman lain. Penyebarannya tidak hanya melalui sentuhan antara tanaman saja melainkan juga bisa karena percikan air, angin, maupun melalui vektor. Tidak ada satu pun cara yang bisa dilakukan agar penyakit ini bisa 100% , namun kita bisa mencegahnya dengan kultur teknis yang baik. Dapat juga dilakukan pembersihan atau pembuangan bagian tanaman yang sudah terserang agar tidak menyebar. Selain dengan cara budidaya yang baik, saat pemilihan benih harus kita lakukan secara selektif . Disarankan agar menanam benih cabe yang memiliki ketahanan terhadap penyakit pathek. Penggunaan benih sembarangan akan beresiko terjadinya serangan penyakit. Secara kimia, pengendalian penyakit ini dapat disemprot dengan fungisida bersifat sistemik yang berbahan aktif triadianefon dicampur dengan fungisida kontak berbahan aktif tembaga hidroksida seperti Kocide 54WDG, atau yang berbahan aktif Mankozeb seperti Victory 80WP.

 Buah cabe yang busuk akibat serangan pathek/antraknose

Layu Bakteri
Bakteri penyebab layu merupakan penyakit kedua yang meresahkan petani setelah antraknosa. Penyebab layu bakteri ini adalah Pseudomonas solanacearum yang serangannya ditandai dengan gejala layu pada tanaman cabe yang mengalami kesembuhan pada waktu sore hari, tetapi lama kelamaan kelayuannya terjadi secara keseluruhan dan menetap. Bakteri ini biasanya ditularkan melalui tanah, benih, bibit, sisa-sisa tanaman , pengairan, nematoda atau alat-alat pertanian. Selain itu bakteri ini mampu bertahan selama bertahun-tahun di dalam tanah dalam keadaan tidak aktif. Bakteri layu cepat meluas terutama di tanah dataran rendah, gejala kelayuan yang mendadak seringkali tidak bisa diantisipasi. Tanaman yang sehat tiba –tiba saja layu yang dalam waktu tidak sampai 3 hari besoknya langsung mati. Itulah gambaran serangan penyakit layu yang sangat menyeramkan. Untuk memastikan penyebab layu tersebut kita bisa mengambil tanaman yang terserang , kemudian pangkal batangnya dibelah untuk direndam pada gelas yang berisi air bening. Apabila bakteri maka akan ditandai dengan keluarnya cairan berwarna coklat susu berlendir semacam asap yang keluar pembuluh batangnya di dalam air. Untuk mengatasinya tak ada jalan lain selain menyingkirkan tanaman yang terserang, dan tetap menjaga agar bedengan tanam selalu dalam kondisi kering di luar. Selain itu , melakukan rotasi tanaman dengan tanaman yang tidak sefamili bisa mengurangi resiko serangan penyakit tersebut. Secara kimiawi, penyakit ini dapat dicegah dengan menyiram larutan Kocide 77WP konsentrasi 5 – 10 gr/liter pada lubang tanam sebanyak 200 ml/tanaman interval 10 – 14 hari dan dimulai saat tanaman mulai berbunga.

  Tanaman cabe yang terserang layu bakteri

Bercak Daun
Penyakit ini ditandai dengan adanya bercak-bercak berupa bulatan seperti cacar pada daun. Bila dibiarkan akan menyebabkan daun-daun cabe gugur sehingga pertumbuhan kurang optimal. Gejala pada daun tersebut ternyata baru serangan awal saja karena bila dibiarkan, akan menyerang batang, tangkai daun serta tangkai bunga. Seperti halnya layu bakteri, cendawan Cercospora capsici penyebab bercak daun ini dapat bertahan hidup pada sisa-sisa tanaman. Pengendalian terhadap penyakit ini dapat dilakukan dengan membuang tanaman yang terserang sekaligus membersihkan sanitasi lingkungan tanaman. Secara kimia dapat juga dicegah dengan fungisida kontak bahan aktif tembaga hidroksida seperti Kocide 54WDG, Kocide 77WP, dan atau fungisida bahan aktif Mankozeb yaitu Victory 80WP.
 Daun yang terkena gejala penyakit bercak daun

PERTANIAN

/ Category:

Kegiatan pertanian yang meliputi budaya bercocok tanam dan memelihara ternak merupakan kebudayaan manusia paling tua. Tetapi dibandingkan dengan sejarah keberadaan manusia, kegiatan bertani ini termasuk masih baru. Sebelumnya, manusia hanya berburu hewan dan mengumpulkan bahan pangan untuk dikonsumsi.

Sejalan dengan peningkatan peradaban manusia, pertanianpun berkembang menjadi berbagai sistem. Mulai dari sistem yang paling sederhana sampai sistem yang canggih dan padat modal. Berbagai teknologi pertanian dikembangkan guna mencapai produktivitas yang diinginkan.

Di lain fihak, ilmu pertanianpun berkembang. Ilmu pertanian kemudian tumbuh bercabang-cabang, terspesialisasi, seperti misalnya agronomi, ilmu tanah, sosial ekonomi, proteksi tanaman, dsb.

Kemajuan ilmu dan teknologi, peningkatan kebutuhan hidup manusia, memaksa manusia untuk memacu produktifitas menguras lahan, sementara itu daya dukung lingkungan mempunyai ambang batas toleransi. Sehingga, peningkatan produktivitas akan mengakibatkan kerusakan lingkungan, yang pada ujungnya akan merugikan manusia juga. Berangkat dari kesadaran itu maka muncullah tuntutan adanya sistem pertanian berkelanjutan.

PERTANIAN BERKELANJUTAN

/ Category:

Definisi komprehensif bagi pertanian berkelanjutan meliputi komponen-komponen fisik, biologi dan sosioekonomi, yang direpresentasikan dengan sistem pertanian yang melaksanakan pengurangan input bahan-bahan kimia dibandingkan pada sistem pertanian tradisional, erosi tanah terkendali, dan pengendalian gulma, memiliki efisiensi kegiatan pertanian (on-farm) dan bahan-bahan input maksimum, pemeliharaan kesuburan tanah dengan menambahkan nutrisi tanaman, dan penggunaan dasar-dasar biologi pada pelaksanaan pertanian.

Salah satu pendekatan pertanian berkelanjutan adalah input minimal (low input) secara khusus ditulis oleh Franklin H. King dalam bukunya Farmers of Forty Centuries. King membandingkan penggunaan input minimal dan pendekatan berkelanjutan pada pertanian daratan Timur (oriental) dengan apa yang dia lihat sebagai kesalahan metoda yang digunakan petani Amerika. Gagasan King adalah bahwa sistem pertanian memiliki kapasitas internal yang besar untuk melakukan regenerasi dengan menggunakan sumberdaya-sumberdaya internal.

Baru-baru ini, Undang-undang Produktivitas Pertanian Amerika, yang merupakan bagian dari Undang-undang Keamanan Pangan 1985, menyediakan kewenangan untuk melaksanakan program riset dan pendidikan pada sistem pertanian alternatif -yang kemudian dikenal sebagai pertanian berkelanjutan dengan input minimal (Low Input Sustainable Agriculture (LISA)). Pada bulan Desember 1987, Kongres Amerika menyetujui US $ 3,9 juta untuk memulai pekerjaan tersebut atas dasar undang-undang Keamanan Pangan. Undang-undang tersebut memberikan mandat untuk melakukan investigasi ilmiah pada a) peningkatan produktivitas pertanian, b) produktivitas lahan sentra produksi, c) mengurangi erosi tanah, kehilangan air dan nutrisi, dan d) melakukan konservasi sumberdaya natural dan energi.

Petani Amerika saat ini sedang mencari sumberdaya yang efisien, biaya lebih rendah, dan sistem-sistem produksi yang lebih menguntungkan. Siapapun yang bergerak di bidang pertanian seharusnya berbagi kepedulian yang lebih luas pada masyarakat dalam mendukung lingkungan yang bersih dan nyaman. Selama sepuluh tahun terakhir, telah terjadi paradigma yang mengangkat masyarakat pertanian dari kondisi yang mengharuskan produktivitas lebih tinggi menuju suatu kondisi masyarakat yang peduli pada keberlanjutan. Hal ini dirasakan sebagai suatu kesalahan bahwa produktivitas yang tinggi dari kegiatan pertanian konvensional telah menimbulkan biaya kerusakan yang cukup siginifikan terhadap lingkungan alam dan disrupsi masalah sosial.

Dalam usaha mengalihkan konsekuensi-konsekuensi negatif pertanian konvensional, beberapa format sistem pertanian berkelanjutan yang berbeda telah direkomendasikan sebagai alternatif-alternatif untuk mencapai tujuan sistem produksi pertanian yang dapat menguntungkan secara ekonomi dan aman secara lingkungan. Kepentingan dalam sistem pertanian alternatif ini sering dimotivasi dengan suatu keinginan untuk menurunkan tingkat kesehatan lingkungan dan kerusakan lingkungan dan sebuah komitmen terhadap manajemen sumberdaya alam yang berkeadilan. Tetapi kriteria yang paling penting untuk kebanyakan petani dalam mempertimbangkan suatu perubahan usaha tani adalah keingingan memperoleh hasil yang layak secara ekonomi. Adopsi terhadap metode pertanian alternatif yang lebih lebar ini membutuhkan bahwa metode tersebut sedikitnya sama kualitasnya dalam memperoleh keuntungan dengan metode konvensional atau memiliki keuntungan-keuntungan non-keuangan yang signifikan, seperti sebagai usaha menjaga penurunan kualitas sumberdaya air dan tanah secara cepat.

Riset dan pendidikan bergerak terbatas diantara para peneliti atau mahasiswa. Sebagaimana seorang mahasiswa menjadi lebih baik diberikan pendidikan mengenai pengetahuan praktis pertanian berkelanjutan, lebih memiliki minat dan dana akan ditingkatkan untuk mendukung riset selanjutnya. Jaminan peneliti dan ketersediaan dana penelitian ini akan lebih memberikan harapan untuk meningkatkan minat pada pendidikan yang memandu riset selanjutnya secara umum. Pooling pendapat yang dilakukan mahasiswa di sejumlah fakultas seluruh Amerika menunjukkan ketertarikan pada pertanian berkelanjutan. Kebanyakan mereka mempertanyakan masalah-masalah pertanian berkelanjutan sebagai sebuah pemikiran yang tidak dapat diadopsi dalam program agroekologi. Mereka memberikan komentar bahwa penurunan dampak lingkungan akibat usaha pertanian berkelanjutan sebagai sebuah keuntungan yang besar dari meninggalkan usaha pertanian konvensional. Lebih banyak riset yang dilakukan pada pertanian berkelanjutan ini, program-program pendidikan yang lebih baik akan dapat dilaksanakan di wilayah ini.

Ketika perubahan dari kegiatan pertanian konvensional ke pertanian berkelanjutan dilaksanakan, perubahan sosial dan struktur ekonomi juga akan terjadi. Pada saat input menurun, terdapat hubungan yang menurun pula pada hubungan kerja terhadap mereka yang selama ini terlibat dan mendapatkan manfaat dari pertanian konvensional. Hasilnya adalah terdapat banyak kemungkinan yang dapat ditemukan yaitu meningkatnya kualitas hidup, dan peningkatan kegiatan pertanian mereka. Dalam mengadopsi input minimal (low input) sistem-sistem berkelanjutan dapat menunjukkan penurunan potensial fungsi-fungsi eksternal atau konsekuensi-konsekuensi negatif dari jebakan sosial pada masyarakat. Petani sering terperangkap dalam perangkap sosial tersebut sebab insentif-insentif yang mereka terima dari kegiatan produksi saat ini

TABUNG BAMBU sebagai PELINDUNG

/ Category: ,

Apa kabar para warga TANI....saya yakin semua dalam keadaan sehat walafiat lahir dan batin....Saya baru saja menguji sebuah alternatif untuk mengihindari layu akibat pantulan dari mulsa untuk tanaman semangka.  Dan saya yakin bisa diterapkan di DUNIA CABE.

Alternatifnya adalah dengan menggunakan tabung bambu.  Tabung bambu yang semula panjang, kita potong sepanjang kurang lebih 5 cm, Tetapi hindari rosnya. Yang kita butuhkan hanya tabung nya bukan ros.  Potonglah sebanyak yang dibutuhkan.

Untuk pemasangannya ketika ponjo (waktu tanam).  Bibit ditanam dahulu kemudian masukkan tabung bambu tersebut. Seperti gambar dibawah ini.



Selamat mencoba.