Cari Blog Ini

TOMATO MOZAIK VIRUS

/ Category:

 TEKNIK PENYEBARAN VIRUS


Virus berbeda dari jamur dan bakteri dalam bahwa mereka tidak menghasilkan spora atau struktur lain yang mampu menembus bagian-bagian tanaman. Karena virus tidak memiliki metode aktif untuk masuk ke sel tanaman, mereka harus mengandalkan menyebabkan luka mekanis, perbanyakan vegetatif tanaman, mencangkok, biji, serbuk sari, dan sedang dilakukan pada bagian mulut serangga mengunyah. Tembakau virus mosaik ini paling sering dimasukkan ke dalam tanaman melalui luka kecil yang disebabkan penanganan dan oleh serangga menggigiti bagian-bagian tanaman.Sumber-sumber yang paling umum inokulum virus untuk virus mosaik tembakau adalah tanaman yang terinfeksi puing-puing yang tersisa di dalam tanah dan produk tembakau tertentu terinfeksi yang mencemari tangan pekerja. Cerutu, rokok, dan tembakau pipa bisa terinfeksi virus mosaik tembakau. Penanganan bahan-bahan merokok mengotori tangan, dan penanganan selanjutnya tanaman hasil dalam penularan virus. Oleh karena itu, jangan merokok sambil menangani atau tanam tanaman.Setelah virus memasuki tuan rumah, itu mulai berkembang biak dengan menginduksi sel inang untuk membentuk virus lebih (gambar dibawah ini).  


Foto yang diambil dengan mikroskop elektron dari agak kaku, partikel virus berbentuk batang-virus mosaik tembakau dari tomat terinfeksi. Bar merupakan 200 nanometer atau 0,000008 inci.


Virus tidak menyebabkan penyakit dengan mengkonsumsi atau membunuh sel-sel melainkan dengan mengambil alih proses metabolisme sel, mengakibatkan fungsi sel abnormal. abnormal fungsi metabolisme sel yang terinfeksi disajikan sebagai gejala mosaik dan lainnya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. tanaman terinfeksi menjadi penampungan untuk virus dan virus dapat ditransmisikan dengan mudah (baik secara mekanis atau oleh serangga) pada tanaman sehat.




CIRI-CIRI SERANGAN VIRUS


Tanaman yang terserang virus menunjukkan adanya perubahan bentuk atau morfologi tanaman dan nekrosis (kerusakan jaringan. Keadaan fisiologis tanaman juga terganggu seperti berkurangnya kegiatan fotosintesa, kecepatan respirasi bertambah, terjadinya akumulasi senyawa nitrogen seperti senyawa amida, dan penurunan akti-vitas zat pengatur pertumbuhan dan sebagainya. 


Gejala Luar: Gejala penyakit yang tampak dapat terjadi pada daun, batang, bunga, buah, biji, akar dengan berbagai tipe gejala penyakit tergantung dari macam virus yang menyerang dan tanaman inangnya. Gejala penyakit yang umum dari infeksi virus ialah terhambatnya pertumbuhan yang mengakibatkan menurunnya hasil dan tanaman lebih cepat mati. Gejala penyakit yang ditimbulkannya dapat sangat berat atau sangat ringan sekali sehingga tidak tampak jelas. Gejala yang paling jelas biasanya terdapat pada daun seperti timbulnya mozaik. Tetapi ada sejumlah virus yang dapat menimbulkan gejala penyakit pada batang, buah, akar dan sebagainya tapi tidak terlihat pada daun. Kebanyakan penyakit virus tanaman bersifat sistematik dan virus yang penyebab sendiri terdapat diseluruh bagian tanaman. Gejala yang ditimbulkannya disebut gejala sistematik. Tapi untuk virus tertentu dan pada tanaman tertentu, gejala serangnya bersifat lokal dengan timbulnya gejala nekrosa ditempat terjadinya infeksi oleh virus. Gejala semacam ini disebut gejala lokal.


Tipe gejala penyakit virus yang banyak terdapat pada tanaman ialah mozaik, kuning dan bercak bercincin atau bercak bergaris. Gejala lainnya ialah penghambatan pertumbuhan, kerdil, daun menggulung, mengkerut atau berubah seperti tali sepatu, roset, nekrosis, floem batang berlekuk-lekuk, buah berlekuk-lekuk, tumor, inesiasi, percabangan berbentuk sapu dan sebagainya
.



Gejala Internal. Selain gejala yang tampak dari luar, serangan virus juga dapat menimbulkan gejala internal. Gejala internal yang ditimbulkan oleh berbagai virus akan berbeda tergantung dari penyebaran virus tersebut dalam tanaman, virus dari kelompok mosaik tidak terbatas pada jaringan tanaman tertentu tapi tersebar dalam tubuh tanaman. Pada penyakit tersebut bagian yang berwarna hijau berkembang dengan cepat sedangkan bagian yang berwarna kuning tertahan pertumbuhannya. Dengan terjadinya pertumbuhan yang tidak merata, permukaan daun bergelombang atau menggulung.
Dengan menggunakan kereta, kita bisa menikmati pemandangan hamparan buah-buahan (1), pembibitan /tabulampot serta kawasan bangunan plastik dan hidroponik.
Berbeda dengan kelompok virus mosaik, maka virus dari golongan kuning menyebabkan kerdil, berwarna kuning dan daun mengeriting. Penyebaran virusnya sangat terbatas dan pada umunya berlokasi dalam floem jaringan dimana merupakan yang pertama kali mengalami kerusakan. Dengan terjadinya penyumbatan pada xylem oleh isi sel parakhima yang telah dirusak di sekitar xylem, maka akan terjadi gejala layu.

Faktor yang mempengaruhi gejala penyakit. Keadaan tumbuhan sangat mempe-ngaruhi perkembangan gejala penyakit. Pada umumnya gejala penyakit virus jelas sekali terlihat pada bagian tanaman yang pertum-buhannya cepat. Jika terjadi infeksi pada bagian tanaman yang sudah tua biasanya perkembangan penyakit tidak begitu sempurna, kecuali pada bagian-bagian tanaman yang masih muda yang tumbuh kemudian. Tanaman yang terkena infeksi virus ada yang menunjukkan gejala penyakit ringan atau sama sekali tidak menampakkan gejala penyakit. Tanaman tersebut dinamakan pembawa yang tidak menimbulkan gejala dan virus tersebut disebut virus laten. Tanaman yang biasanya memperlihatkan gejala penyakit jika terinfeksi oleh suatu virus tertentu tetapi pada keadaan lingkungan tertentu (temperatur tinggi atau rendah) gejala penyakitnya untuk sementara tidak tampak, maka gejala semacam ini disebut gejala tersamar. Jika keadaan lingkungannya berubah kembali maka gejala penyakitnya terlihat lagi. Dengan adanya gejala yang tersamar ini dapat menimbulkan banyak kesulitan dalam melakukan eradiksi terhadap tanaman yang telah terkena infeksi.

Dalam hubungan dengan keadaan lingkungan, gejala penyakit virus tidak begitu jelas, jika tanaman yang terinfeksi berada dilingkungan gelap, dibawah peneduh atau pada tanaman tanah yang lebih kering seperti terjadi pada penyakit mosaik dan penyakit bergaris pada tebu. Pada umumnya keadaan hara tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman akan baik pula untuk perkembangan virus dan timbulnya gejala penyakit. Peningkatan dosis nitrogen dan fosfor baik untuk perkembangan gejala penyakit virus sedangkan kalium memberikan akibat yang sebaliknya.

Kerdil pada tanaman cabe yang disebabkan oleh serangan virus
Diantaranya faktor lingkungan, efek temperatur telah banyak dipelajari. Temperatur yang optimum untuk perkembangan gejala penyakit biasanya lebih rendah daripada temperatur optimum untuk pertumbuhan tanaman. Temperatur yang sama seringkali mempunyai efek yang berlainan untuk berbagai virus. Adakalanya temperatur tertentu menyamarkan gejala virus yang satu, tapi untuk virus yang lainnya malah memberikan gejala yang lebih jelas tampaknya. Walaupun gejala penyakit virus tidak tampak, tetapi hal ini tidak selalu berarti telah terjadi penyembuhan pada tanaman saki
 




PENGENDALIAN.

Tidak seperti fungisida kimia digunakan untuk menanggulangi penyakit-penyakit jamur, sampai saat ini tidak ada perawatan kimia bagian efisien yang melindungi tanaman dari infeksi virus. Selain itu, tidak ada perlakuan kimia diketahui digunakan dalam kondisi lapangan yang menghilangkan infeksi virus dari jaringan tanaman setelah mereka terjadi. Praktis berbicara, tanaman yang terinfeksi oleh virus tetap begitu. Dengan demikian, pengendalian virus mosaik tembakau terutama difokuskan pada mengurangi dan menghilangkan sumber virus dan membatasi penyebaran oleh serangga. Tembakau virus mosaik adalah virus tanaman yang dikenal paling gigih. Telah diketahui untuk bertahan hingga 50 tahun di bagian-bagian tanaman kering. Oleh karena itu, sanitasi adalah praktek yang paling penting dalam mengendalikan virus mosaik tembakau.


 

hama TRIPS YANG MENYERANG TANAMAN CABE

/ Category:

Chilli Thrips, Scirtothrips dorsalis Hood





 

LARVA TRIPS:




SETELAH LARVA:



AKIBAT TRIP:
SIKLUL HIDUP:
Thrips berukuran sangat kecil antara 0,5 – 1,5 mm. Imago meletakan telur di permukaan bawah daun atau pada kelopak dan mahkota bunga. Jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor betina berkisar antara 30-300 butir, tergantung mutu dan jumlah makanan yang tersedia. Thrips mengalami dua instar nimfa dan stadia pupa, nimfa thrips berwarna kekuning-kuningan, sedangkan thrips dewasa berwarna coklat kehitaman. Instar pertama dan kedua merupakan fase aktif, sedang nimfa instar selanjutnya adalah prapupa dan pupa yang mempunyai fase istirahat. Untuk menyelesaikan satu siklus hidup thrips, paling sedikit membutuhkan waktu sekitar 10 hari.


Hama ini bersifat polifag dengan tanaman inang utama yaitu cabai, bawang merah, bawang daun dan jenis bawang lainnya, dan tomat.  Tanaman inang lain yaitu  tembakau, kopi, ubi jalar, labu siam, bayam, kentang, kapas, tanaman dari famili CrusiferaeCrotalaria, kacang-kacangan, mawar, dan sedap malam.



Hama ini menyerang dengan cara mengisap cairan tanaman (daun muda/pucuk) dan tunas-tunas muda, sehingga sel-sel tanaman menjadi rusak dan mati. Gejala serangan paling banyak dijumpai pada permukaan bawah daun atau bunga (gambar 14).  Kerusakan tanaman ini ditandai dengan adanya bercak-bercak putih atau keperak-perakan/kekuning-kuningan seperti perunggu terutama pada permukaan bawah daun.  Gejala bercak keperak-perakan awalnya tampak dekat tulang daun menjalar ke tulang daun hingga seluruh permukaan daun menjadi putih.  Daun kemudian menjadi coklat, mengeriting atau keriput dan akhirnya kering.  Pada intensitas serangan yang tinggi, tepi daun berkerut, menggulung ke dalam dan timbul benjolan seperti tumor sehingga mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil dan bila daun tersebut dibuka, akan terdapat imago yang berkelompok. Tanaman yang merana tidak akan menghasilkan bunga yang prima.  Hama ini juga bertindak sebagai vektor Tomato Spotted Wilt Virus (TSWV). Populasi dan serangan thrips biasanya tinggi pada musim kemarau dan menurun pada musim hujan.

Serangga dewasa (imago) berukuran sangat kecil, dengan panjang tubuh + 1 mm dan berwarna kuning pucat sampai coklat kehitaman.  Imago yang sudah tua berwarna agak kehitaman, berbercak-bercak merah atau bergaris-garis.  Imago thrips muda berwarna putih atau kekuning-kuningan.  Serangga jantan tidak bersayap, sedangkan yang betina mempunyai dua pasang sayap yang halus dan tidak rata.  Thrips berkembang biak secara partenogenesis. Umur stadium serangga dewasa dapat mencapai 20 hari. Telur thrips berbentuk oval atau seperti ginjal. Serangga betina dapat bertelur hingga 80 butir dan dapat menetas setelah 3 – 8 hari. Telur biasanya diletakkan pada daun bagian bawah atau di dalam jaringan tanaman secara terpencar.

Nimfa yang baru menetas berwarna keputihan/kekuningan.  Nimfa instar pertama dan kedua aktif berada di permukaan daun sedangkan instar selanjutnya tidak aktif. Kemungkinan pada saat ini nimfa berada di permukaan tanah. Pupa yang terbungkus kokon terdapat di permukaan bawah daun dan di permukaan tanah di sekitar tanaman. Thrips muda yang keluar dari kokon biasanya belum dapat terbang tetapi sudah dapat meloncat.  Perkembangan pupa menjadi thrips muda akan semakin meningkat pada kelembaban rendah dan suhu lingkungan yang hangat. Pengendalian hama ini, yaitu dengan cara mengatur waktu tanam, repellent dan insektisida berbahan aktifmerkaptodimetur sesuai dosis anjuran.

MACAM MACAM HAMA TRIPS

/ Category:

Sifat-sifat Bakteri Patogen

/ Category:



Penyebaran Bakteri Patogen

R. solanacearum merupakan patogen tular
tanah dan dapat menyebar dengan mudah
melalui bahan tanaman, alat pertanian, dan
tanaman inang (Sitepu dan Mogi 1996).
Kemampuan bakteri tanah bertahan hidup
diduga sangat bergantung pada keberadaan
tanaman inang. Supriadi et al. (1995)
menemukan berbagai tanaman inang R.
solanacearum dari berbagai lokasi di
Indonesia. Isolat-isolat yang diperoleh dari
tanaman inang tersebut bervariasi dalam
hal biovar dan patogenisitasnya. Strain
patogen yang spesifik pada tanaman
inang terdapat pada lahan tertentu. Hal
tersebut berkaitan dengan faktor lingkungan,
baik faktor abiotik seperti suhu,
tipe tanah, dan curah hujan maupun faktor
biotik, sebagai contoh keberadaan nematoda
dapat memperparah serangan
penyakit layu bakteri pada beberapa jenis
tanaman (Hayward 1994) termasuk nilam,
karena nilam merupakan salah satu
tanaman inang bagi nematoda (Mustika
dan Nuryani 1993; Mustika 1996).
Pada medium Yeast Peptone Agar (YPA),
bakteri patogen berbentuk koloni tidak teratur,
berwarna putih dan fluidal yang merupakan
ciri khas koloni R. solanacearum
(Sitepu dan Asman 1989; Radhakrishan et
al. 1997; Supriadi et al. 2000; Nasrun 2005).
Bakteri patogen mempunyai daya virulensi
yang berbeda-beda dengan masa inkubasi
14,60−39,30 hari setelah inokulasi (Nasrun
2005).
Bakteri R. solanacearum mempunyai
reaksi negatif terhadap hidrolisis pati,
gelatin, arginin dan produksi levan, dan
bereaksi positif terhadap uji katalase, oksidase,
akumulasi PHB, dan denitrifikasi.
Isolat bakteri patogen dapat tumbuh pada
NaCl 0−2% dengan pH 4−8,50 dan suhu
13−37oC, tetapi tidak dapat tumbuh pada
suhu 41oC. Jika bakteri ditumbuhkan pada
medium YPA ditambah tetrazolium salt
dan diinkubasi selama 24 jam maka akan
terlihat koloni berwarna putih, fluidal
dengan pusat koloni berwarna merah
jambu (Nasrun 2005). Tipe koloni ini merupakan
koloni R. solanacearum virulen
(Hayward 1994). Dari pengecatan negatif
dan setelah diuji dengan HCl terlihat
bakteri berbentuk batang dan bersifat gram
negatif. Berdasarkan karakterisasi bakteri
patogen dengan berpedoman pada sifat-sifat bakteri dan bentuk koloni bakteri
dengan mengacu pada metode Hayward
(1976) dan Denny dan Hayward (2001),
diketahui bahwa bakteri patogen penyebab
penyakit layu bakteri pada nilam
adalah R. solanacearum.
R. solanacearum dapat menggunakan
sumber karbon dari dektrosa, manitol,
sorbitol, dulsitol, trehalosa, laktosa, maltosa
dan selobiosa, yang berarti bakteri ini termasuk
biovar III (Hayward 1964; Denny
dan Hayward 2001). Hasil uji patogenisitas
pada berbagai jenis tanaman menunjukkan
bahwa isolat R. solanacearum dapat
menginfeksi tomat, cabai, terung, dan
tembakau dengan memperlihatkan gejala
layu. Sebaliknya R. solanacearum tidak
menginfeksi kacang tanah lokal, jahe,
pisang emas, pisang cavendish, dan
heliconia (Nasrun 2005). Hasil uji kisaran
inang ini menunjukkan bahwa R. solanacearum
dapat menyerang tanaman
kelompok Solanaceae, dan bakteri ini termasuk
ke dalam ras 1 (Buddenhagen et al.
1962 dalam Hayward 1964).

PENYAKIT TANAMAN

/ Category: